Komisioner KPU: Gugatan Prabowo-Hatta ke MK Aneh, Tiap Hari 'Nambah-nambah'



Jakarta - KPU merasa aneh dengan gugatan hasil pemilu presiden yang diajukan oleh Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa ke Mahkamah Konstitusi (MK). Alasannya, klaim yang disebut kubu Prabowo-Hatta mengenai adanya suara bermasalah sebanyak 50 juta suara tidak jelas lokasi terjadinya di mana.
Sebelumnya dalam permohonan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK), tim Prabowo-Hatta menuliskan jumlah suara yang bermasalah mencapai 21 juta suara. Tidak lama setelah itu mereka mengklaim jumlah suara bermasalah pada Pemilu Presiden 2014 bertambah dua kali lipat.
Saat pendaftaran ke MK sebelumnya disebutkan suara bermasalah itu sebanyak 21 juta, maka kini jumlahnya meningkat menjadi 50 juta.
"Di mana (TPS) itu persisnya yang membuat itu 50 juta suara. Itu agak sulit amat, harus ada TPS-nya di mana. Kan aneh kalau setiap hari nambah-nambah. Apa betul perbaikan itu artinya menambah-nambah," ujar Komisioner KPU, Hadar Nafis Gumay saat ditemui di Novotel Hotel, Jakarta, Sabtu (2/8/2014).
Dikutip Tribunnews.com, Hadar pun enggan menanggapi lebih jauh mengenai tudingan pihak Prabowo-Hatta itu. Menurut Hadar, semuanya nanti akan jelas dalam penanganan perkara di MK.
"Ya kita lihatlah bagaimana MK akan men-treat-kan ini. Tapi ya sudah lah. Yang penting jelas saja dulu. Jangan kemudian nambah-nambah terus nggak jelas," kata Hadar. /MetroSulteng.com

Ini Bayaran Jokowi Kepada Para Relawan


JAKARTA - Di sela-sela acara Halal Bihalal dengan para relawan, di Kembang Goela Resto, Jakarta, Minggu (3/8/2014), presiden terpilih Joko Widodo menyempatkan diri melakukan selfie dengan puluhan relawan yang hadir dalam acara tersebut.
Tak hanya ber-selfie beramai-ramai, Jokowi juga meladeni permintaan selfie satu per satu yang diminta para relawan. Puluhan relawan pun tampak antri berfoto dengan Jokowi, tak terkecuali relawan dari kalangan selebriti, seperti Ringgo Agus Rahman, J-Flow, dan Tompi.
Permintaan selfie berawal saat gitaris grup band Slank, Abdi Negara alias Abdee memperkenalkan para panitia acara konser Salam 2 Jari yang diselenggarakan pada 4 Juli yang lalu.
Dalam kesempatan tersebut, Abdee yang bertindak sebagai ketua panitia menceritakan kepada Jokowi bagaimana mereka mempersiapkan konser tersebut.
"Kami semua tidak meminta bayaran, cuma mau minta selfie, pak," kata Abdee kepada Jokowi.

Sambil tersenyum, Jokowi tampak mengiyakan permintaan tersebut yang langsung disambut dengan sorak sorai para relawan. Selain dihadiri para relawan dari kalangan selebriti, acara Halal Bihalal juga dihadiri sejumlah akademisi, seperti Komaruddin Hidayat, Anies Baswedan, dan Teten Masduki. /KOMPAS.com

5 Masalah KPUD Sulteng yang Digugat Prabowo-Hatta di MK


Palu - Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sulawesi Tengah termasuk dalam 22 provinsi yang menjadi objek sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2014 yang diajukan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Ketua KPUD Sulteng Sahran Raden mengatakan, Prabowo-Hatta mendalilkan 5 masalah terkait pelaksanaan pemengutan suara di Sulteng. Pertama, terdapat 150.292 pengguna hak pilih yang tidak sesuai dengan jumlah penggunaan surat suara. 

"Kasus tersebut tersebar di 190 TPS," kata Sahran kepada Liputan6.com, Palu, Jumat (1/8/2014).

Kedua, lanjut Sahran, jumlah penggunaan surat suara yang tidak sama dengan jumlah suara sah dan jumlah suara tidak sah yang terjadi di 12 TPS. 

Ketiga, kata Sahran, pemohon juga mendalilkan jumlah Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb) di 250 TPS, lebih besar dari data pemilih yang terdaftar.

Adapun dalil keempat yang disampaikan Prabowo-Hatta, kata Sahran, DPKTb lebih besar dari total pengguna hak pilih yang tersebar di 264 TPS. Yang terakhir, pasangan capres nomor urut 1 ini tidak memperoleh suara di satu TPS.

"Semua TPS yang diklaim bermasalah oleh pasangan nomor urut 1 tidak disebutkan lokasinya. Makanya kami perintahkan semua kotak suara dibuka, sebagai langkah antisipasi menghadapi gugatan tersebut," ungkapnya.

Sahran menambahkan, dari pencermatan data dokumen yang telah dilakukan, data pemilih masih lebih lebih besar dari data pengguna hak pilih. "Kami yakin penyelenggara di tingkat bawah sudah bekerja dengan baik," tandas Sahran. /liputan6.com

Catatan Allan Nairn: Kemenangan di Indonesia




Jika hasil proses hitung cepat (quick count) yang diselenggarakan sejumlah lembaga terpercaya itu benar--dan ada alasan untuk menilainya sebagai kebenaran--maka peluang kemunculan fasisme di Indonesia telah di kalahkan.

Beberapa minggu terakhir, Indonesia, negeri berpenduduk terbesar no.4 di dunia, nampaknya nyaris memilih seorang pembunuh massal yang selama sekian dekade bekerja melayani AS.

Ia menyerukan supaya pemilihan langsung dihapus. Ia pernah ngelantur panjang lebar tentang fasisme dan kediktatoran, serta belakangan ini memanfaatkan Kopassus dan Intelijen dalam operasi senyap untuk mengacaukan pemilu.

Namun pada Rabu 9 Juli, suatu hari yang tak akan terlupakan oleh sejarah, Jenderal Prabowo Subianto kalah tipis di bilik suara.

Hari itu saya menghabiskan waktu di kampung kelas pekeja miskin. Ada aroma keseriusan ketika orang beramai-ramai ke TPS.

Ketika hasil pemilihan kian jelas, seorang laki-laki kerempeng yang duduk di atas kursi kayu mengatakan: "Rakyat menang."

Ia tidak tersenyum. Ia kelihatan lega.

Butet Manurung Raih Penghargaan Internasional Magsaysay


MANILA - Indonesia kembali mencatatkan prestasi di kancah internasional setelah antropolog Saur Marlina Manurung (42) meraih penghargaan Magsaysay, yang kerap disebut sebagai Hadiah Nobel-nya Asia.
Saur Marlina Manurung meraih penghargaan ini karena kegigihannya melindungi dan memberdayakan kehidupan warga penghuni hutan Indonesia dengan mendirikan sekolah rimba.
Perempuan yang lebih dikenal dengan nama Butet Manurung itu berhasil memberikan pendidikan bagi 10.000 anak dan orang dewasa anggota suku Anak Dalam di hutan Bukit Duabelas, Jambi.
Sejak 1999, Butet memilih meninggalkan gemerlap kota untuk memberikan pendidikan bagi warga suku Anak Dalam di pedalaman Provinsi Jambi. Di sana, Butet harus berjalan kaki menembus hutan belantara untuk menemui kelompok-kelompok masyarakat dan menawarkan pendidikan.
Upaya Butet ini tak selalu mendapatkan sambutan. Tak jarang, warga pedalaman menolak tawaran pendidikan baca tulis yang disampaikan perempuan kelahiran Jakarta itu.
Sebelum meraih penghargaan Magsaysay, Butet juga pernah menerima penghargaan "Man and Biospher" dari UNESCO dan LIPI pada 2001 dan menjadi salah satu pahlawan versi majalah Time pada 2004.
Penghargaan Ramon Magsaysay, yang namanya diambil dari nama Presiden Filipina yang tewas dalam kecelakaan pesawat terbang, mulai diberikan pada 1957.

Penghargaan ini diberikan untuk individu atau kelompok yang dianggap memberi perubahan terhadap komunitas masyarakat di sekitarnya. Butet dan para pemenang penghargaan Magsaysay lainnya akan menerima hadiah ini di Manila pada 31 Agustus mendatang. /tribunnews.com

Ketua KPU: Kotak Suara Dibuka Merujuk Pada PMK No 4 Tahun 2014


Sabtu, 2 Agustus 2014, Ketua KPU Husni Kamil Manik menjelaskan tentang beberapa pertanyaan terkait dengan pembukaan kotak suara yang dilakukan di KPUD. Pada akun twitter-nya @HusniKamilManik beliau menjelaskan beberapa pertanyaan dari beberapa akun twitter terkait proses tersebut.


Menurut Husni, bahwa pembukaan kota suara tersebut berdasarkan pada Peraturan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 04 Tahun 2014 Tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Dalam aturan tersebut, pihak termohon menyiapkan keterangan dan alat bukti, sehingga dikarenakan alat bukti ada dalam kotak suara maka KPU harus membuka kotak suara tersebut.
Selain itu, Husni juga menjawab pertanyaan tentang Pemungutan Suara Ulang di TPS di DKI Jakarta, menurut Husni bahwa Bawaslu hanya merekomendasikan 13 TPS yang harus di ulang dan itu telah dilaksanakan oleh KPU. **



Desi Anwar: My Take on ‘Delusional’ Prabowo


I don’t know what Indonesia has done to deserve this karma of having a loser of a presidential candidate who just refuses to accept his defeat gracefully, move on with his life and let the country get on with going back to business as usual.
Instead, in the more than two weeks since we all went dutifully to the polling station to make our choice, in a peaceful, democratic and transparent election, we still have to put up with listening to his rhetoric and speeches about how, according to his version of the results, he should have won, about how the General Elections Commission, or KPU, is unfair and undemocratic, about how the whole election process is illegitimate because it is based on a massive and systematic fraud. All because the stars are not in his favor. All because he lost.
Because the result — since the day the quick counts were aired, to the official count made by the KPU under intense scrutiny by the whole of country who made sure that no irregularity went unnoticed — consistently puts him in the losing team.
This, despite his team’s months of relentless efforts in engaging in huge, effective and systematic smear campaigns in every media platform that actually garnered him more votes than he would otherwise deserve. Despite the huge and successful public relations efforts to make him into some sort of savior of the land and the many activities, both obvious and covert, to influence voters to choose him. Not to mention the amount of time, money, professional campaign strategists, energy and high blood pressure expended in order to fulfill his one lifelong ambition: to be the president of this country.
But the fact is, there can only be one winner. And it just so happens, it’s not him. And no amount of bad mouthing of his opponent, no amount of telling the entire world that he’s won the election, no amount of shouting and getting upset, can change that fact. A fact that many losing presidential candidates around the world have had to accept in the end, however bitter, without breaking down into pathetic temper tantrums. This, after all, is the world of politics, not some kindergarten playground.
Instead of quietly and gracefully conceding — which would have been the most honorable thing to do, especially for a man of valor and a patriot as he always claims himself to be — he has stolen much of the media limelight that should have been devoted to congratulating the newly elected president, to focus on his pain, frustrations and immense sense of betrayal.
Is he not the embodiment of heroism and bravery? Is he not the champion of democracy? Is he not the knight in shining armor who is destined to raise the Indonesian people from their stupidity, slave-mentality and oppression by arrogant foreigners?
Is it not obvious that he is the true and legitimate winner of the election, and not some skinny, furniture maker out of nowhere who’s never ridden a horse, wielded a gun or defended the country in battle? A nobody who actually had the audacity to cross path with one born with a silver spoon in his mouth and whose lineage can be traced back centuries.
Surely there must be some mistake. A cruel joke. Or some massive and systematic conspiracy concocted by the supporters of the Dark Force to rob him of his rightful throne and his birthright. The stars cannot be wrong. So the whole election must be wrong. And it is his duty to right that wrong, whatever it takes, lest the heavens be offended if the injustice is not redressed.
Never mind that the whole country is hostage to his rage. Never mind that he treats respected institutions with contempt like some bilious and cantankerous despot, and this when he’s not even the president yet. (God forbid what he would be like if he did become president).
In this, I lay the blame squarely on the KPU for having allowed a delusional megalomaniac to enter the presidential race to begin with.
Desi Anwar is a senior anchor at Metro TV. She can be reached at desianwar.com or dailyavocado.net.

Terjemahan:
Saya tidak tahu apa dosa Indonesia dengan mendapatkan karmanya memiliki seorang kandidat presiden yang pecundang yang tidak mau menerima kekalahannya dengan lapang dada, melanjutkan saja hidupnya, dan membiarkan negeri ini kembali menjalankan urusan sehari-hari.
Alih-alih, selama lebih dari dua minggu sejak kita menjalankan kewajiban memilih, lewat pemilu yang demokratis, damai, dan transparan, kita masih saja harus menenggang pidato-pidato retorikanya tentang hasil-hasil pemilu yang menurut versinya sendiri, ia semestinya dialah yang menang, pidato tentang Komisi Pemilihan Umum yang curang dan tidak demokratis, tentang seluruh proses pemilihan umum yang tidak sah karena didasarkan pada upaya penipuan yang masif dan sistematis. Semua itu hanya karena dia tidak sedang beruntung. Semua karena dia kalah.
Sebab hasilnya— sejak hasil perhitungan cepat (quick count) ditayangkan, sampai ketika hitungan resmi oleh KPU di bawah pengawasan ketat di seluruh negeri demi memastikan tidak ada ketidakwajaran yang terluputkan— secara konsisten dia berada di kubu yang kalah.
Padahal, selama berbulan-bulan kubunya telah dengan gigih dan tiada henti melancarkan upaya kampanye garang secara besar-besaran, efektif dan sistematis di setiap basis media yang sebenarnya sudah berhasil mendongkel kenaikan suara daripada yang semestinya ia dapatkan. Kendati telah mengerahkan upaya-upaya humas yang taktis dan besar-besaran untuk mengangkatnya menjadi tokoh penyelamat negeri ini ditambah lagi dengan berbagai aktivitas, baik yang secara terang-terangan maupun yang secara sembunyi-sembunyi, untuk mempengaruhi para pemilih agar memilihnya. Belum lagi entah berapa banyak uang, waktu, dan ahli strategi kampanye profesional, energi dan kenaikan tensi darah demi memenuhi ambisi seumur hidupnya: menjadi presiden di negeri ini.
Namun, dalam kenyataan, pemenangnya hanya boleh ada satu. Dan pemangnya sudah terpilih, dan bukan dia. Kendati apapun yang dicemoohkan kubu seberang, kendati ia telah mengumumkan ke seluruh dunia bahwa dialah sang pemenangnya, kendati seberapa banyak pun amarah dan ngamuk, fakta itu tidak bisa diubah. Kenyataan adalah banyak sekali kandidat presiden yang kalah di dunia ini ujung-ujungnya toh harus menerima kekalahan, seberapa pahitpun, tanpa harus jadi ngamuk-ngamuk yang membuat iba. Toh semua ini hanya dunia politik, bukan taman bermain di Taman Kanak-Kanak.
Alih-alih mundur dengan tenang dan anggun— yang merupakan tindakan terhormat, terutama bagi seorang yang perkasa dan patriot seperti pengakuannya tentang dirinya selama ini— dia telah mencuri terlalu banyak perhatian media yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memberi ucapan selamat kepada presiden terpilih yang baru, malah harus difokuskan bagi rasa sakit hatinya, rasa frustrasinya, dan perasaan terkhianati tiada terhingga.
Kan dialah simbol heroisme dan keberanian? Kan dialah seorang pendekar demokrasi? Kan dialah kastria berseragam berkilau para yang telah ditakdirkan untuk mengangkat rakyat Indonesia dari kebodohan, mentalitas-budak, dan dari penindasan pihak-pihak asing yang arogan itu?
Tidakkah jelas bahwa dialah sang pemenang pemilu yang sebenarnya dan yang sah, bukan lelaki kerempeng pembuat mebel yang tak jelas asal usulnya yang tidak pernah menunggang kuda, tak pernah menyandang senjata atau tak pernah membela negara dalam peperangan? Seorang yang tak punya nyali untuk berhadapan dengan seorang yang terlahir dari keluarga berada dan dengan keturunan yang dapat dilacak selama berabad-abad?
Pastilah ada kekeliruan. Ada kejahilan yang keji. Atau semacam konspirasi sistematis dan masif yang direkayasa oleh para pendukung Kekuatan Jahat untuk merampas tahta yang sepenuhnya telah menjadi miliknya sejak ia dilahirkan. Mereka yang berada di atas itu tidak pernah salah. Maka yang salah adalah seluruh proses pemilu ini. Dan adalah kewajibannya untuk meluruskan kesalahan itu, apapun yang terjadi, karena kalau tidak maka bahaya mengancam bila ketidakadilan tidak ditegakkan.
Tak masalah bahwa seluruh negeri menjadi tersandera oleh murkanya. Tak masalah bahwa ia memperlakukan lembaga-lembaga terhormat dengan cara hina macam seorang tiran penindas yang memuakkan dan agresif, dan ini ketika dia bahkan belum jadi presiden. (Hanya Tuhan yang tahu apa jadinya bila dia yang menjadi presiden).

Karena itu, saya sepenuhnya menyalahkan KPU karena dari awal telah membiarkan seorang megalomania delusional mengikuti pemilihan presiden. ***

Curahan Hati Seorang Jurnalis Tentang Sikap Prabowo



Sumpe dari hampir satu bulan terakhir nempel Prabowo, baru hari ini kesabaran saya habis...Saya benar-benar kesal pada Prabowo and so called media team...

Media team Prabowo undang wartawan buat datang karena katanya Prabowo dan Hatta akan datang serahkan laporan mereka sendiri ke MK

Sebagian wartawan datang jam 2 sebagian lagi datang jam 4 seperti saya...Kami berusaha datang lebih pagi buat dapat gambar bapak yang katanya mau datang sama Hatta

Jam 5 belum datang, jam 6 baru pengacara yang datang sementara yang kami dengar dia pergi buka bersama di Grand Hyatt...

Jam 7 kami diberitahu dia sudah datang, jam 7.30 semua orang sudah bersiap, barikade diketatkan karena katanya bapak mau masuk

Sampe jam 8 berlalu sampe saya lihat satu per satu massa bubar dan orang-orang tim Prabowo masuk ruangan... no sign of Prabowo

saat itulah kami tau Prabowo Hatta pulang tanpa even kasih salam buat wartawan yang nunggu disitu hampir 4 jam, beberapa dari mereka belum buka puasa nunggu bapak..

Sumpah serapah pun muncul mulai dari "Untung gue ga milih lo" sampe "Thank God bukan dia presidennya" Prabowo sudah kehilangan respect kami para juru warta...

Pak Prabowo yang terhormat,

Taukah anda kami sudah duduk nunggu bapak sejak siang, sejak jam 6 beberapa wartawan sudah naik di tangga nunggu buat dapat momen bapak dan pak Hatta masuk...

Tahukah anda sebagian dari mereka cuma berbuka dengan permen saja demi bapak...nasi bungkus dan KFC yang bapak bagikan ga cukup buat ngasi makan bahkan buat supporter bapak yang banyak...

Kami ditahan sama polisi ga boleh keluar masuk, barikade sudah disiapkan dari jam 5 sore demi bapak...

Kami cape, kelaparan, diatas tangga sambil menanti janji juru bicara bapak yang yakinkan kami bapak akan datang..sementara ibu-ibu suporter sibuk makan bakpao...

Kami datag kesana karena kami respect sama bapak..tapi ternyata wartawan ga ada harganya buat bapak...

Ga ada maaf atau sekadar melongokkan kepala melambaikan tangan..Bapak langsung aja pergi, kami cuma disuguhi pengacara yang omongannya basi...

Saya tau pak, ga ada yang bisa atur bapak.. Bapak semaunya sendiri.. taukah bapak ketika sebagian besar wartawan asing walk out dari liputan karena  percuma, yang mereka cari bapak bukan Mahendradata...

Bapak teriak-teriak minta direspek, dihargai dihormati tapi taukah anda buat dapat penghormatan itu anda harus belajar menghormati dulu?

Anda teriak ketika capres lainnya banyak diliput, anda bilang pencitraan, anda bilang TV/Media pilih kasih...

Pak coba due drpd pointing orang mending ngaca dulu..Bapak cukup baik ga buat org lain nyaman dan mencintai bapak...

Saya salut sama kepintaran bapak, ketegasan bapak, kharisma dan gaya bapak berorasi.. Bapak saya percaya bisa jadi pemimpin yang hebat...

Sayang cuma satu yang bapak ga punya...Bapak ga punya hati...

Bapak cuma mau dihormati tapi ga peduli perasaan org lain...Bapak mau menang ga peduli berapa harganya

Bapak cuma baik sama yang baik sama bapak..Bapak slalu dilayani sbg raja, sayangnya bapak ga pernah mau melayani..

Kalo banyak orang ga suka sama bapak, bapak salahkan mereka.. Bapak suka marah-marah ga jelas, bersikap seenaknya kaya bayi..

Bapak Prabowo, saya rasa anda butuh merubah hati anda terlebih dulu..

Pastor saya selalu bilang apa yang ada di tanganmu harusnya tidak lebih besar dari apa yg ada di hatimu.. Hati menentukan semuanya..

Jadi jangan salahkan hati org ketika mereka lbh pilih Jokowi dibanding bapak, mungkin ini saatnya bapak intropeksi hati


SBY: Keterangan Pers tentang Pencetakan Uang di Australia, Pengamanan Mudik Lebaran, Proses Pilpres 2014, dan Perkembangan Situasi di Gaza

Keterangan Pers tentang Pencetakan Uang di Australia, Pengamanan Mudik Lebaran, Proses Pilpres 2014, dan Perkembangan Situasi di Gaza




Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua.

Saudara-saudara,
Hari ini saya akan menyampaikan pernyataan berkaitan dengan satu isu yang menurut pandangan saya memerlukan klarifikasi dan penjelasan agar isu itu tidak berkembang kesana kemari dan kemudian menimbulkan persepsi yang keliru dari rakyat Indonesia.

Ini berkaitan dengan pencetakan uang di negara sehabat. Oleh karena itu, mendampingi saya adalah yang mewakili Gubernur Bank Indonesia, karena Gubernur BI sedang berada di luar kota, dalam hal ini diwakili oleh Deputi, Gubernur Senior, Bapak Mirza Aditya Swara. Dan kemudian karena Menteri Keuangan juga sedang di luar kota, diwakili oleh Dirjen Perbendaharaan, Saudara Marwanto.

Sebenarnya saudara-saudara, konsentrasi dan tugas saya sebagai Presiden RI sekarang ini adalah memantau pengamanan dan pelayanan mudik lebaran. Karena ada 30 juta orang, kurang lebih, saudara-saudara kita tengah melaksanakan mudik lebaran di berbagai wilayah di Indonesia. Tadi siang, saya berkomunikasi dengan Kapolri, yang sekarang sedang berada di Jalur Selatan, ikut mengendalikan jalannya operasi pengamanan mudik lebaran. Alhamdulillah hingga saat ini, pada prinsipnya mudik lebaran saudara-saudara kita itu dapat dikelola dengan baik, tidak ada sesuatu yang menonjol dalam arti buruk. Tentu sebagaimana biasanya disana-sini ada masalah-masalah yang juga terus diatasi dan dicarikan solusinya. 

Kemudian yang kedua, saya juga tentu berkewajiban untuk memastikan proses Pilpres tahun 2014 ini bisa dituntaskan, sehingga 20 Oktober nanti berlangsung suksesi kepemimpinan secara damai dan demokratis. Saudara mengetahui bahwa pasangan Pak Prabowo Subianto dan Pak Muhammad Hatta Rajasa membawa perselisihan hasil penghitungan suara KPU ke MK. Saya dan semua pihak harus mengawalnya agar sekali lagi, semuanya berlangsung dengan baik.

Perhatian yang ketiga, saya juga terus mengikuti perkembangan situasi di Jalur Gaza Palestina, karena saya melihat langsung melalui tayangan televisi, baik nasional maupun internasional, krisis kemanusiaan itu sudah melampaui batas kepatutannya. Hari ini saya menulis surat terbuka, yang saya tunjukan kepada para pemimpin sedunia. Dan telah dimuat di koran The Strait Times, saya kira saudara bisa mengakses dalam dan versi bahasa Indonesia, telah saya rilis di facebook SBY.

Kita ingin tragedi kemanusiaan itu segera bisa diakhiri, gencatan senjata bisa segera diberlakukan. Kita tidak tega melihat kaum perempuan, anak-anak, dan golongan lanjut usia menjadi korban, baik meninggal ataupun luka-luka, dan mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa.

Sedangkan perhatian yang keempat, sebagai Presiden, pada masa libur bersama ini adalah mengikuti proses investigasi jatuhnya pesawat terbang Malaysia, MH17, karena ada 14 WNI yang ikut jadi korban. Kita ingin investigasinya berlangsung dengan baik. Kemudian setelah diidentifikasi dengan benar, jenazah warga negara kita bisa diserahkan kepada sanak keluarganya dan bisa membuat kejelasan bagi masyarakat. Itulah 4 hal yang menjadi prioritas perhatian dan tugas saya selaku presiden sekarang ini.

Namun, kembali kita dikejutkan oleh sebuah berita yang dikeluarkan oleh Wikileaks dan kemudian dilansir atau diberitakan ulang oleh nasional, sindonews.com

Saya akan bacakan pointers ataupun butir-butir penting yang diberitakan oleh sindonews.com itu yang diambil dari wikileaks, dan sayang sindonews.com tidak melakukan klarifikasi terlebih dahulu terhadap saya. Padahal isu itu sangat sensitif, ini memerlukan pengertian bersama, kalau sindonews.com punya itikad baik, sesuai dengan kode etik jurnalistik maka bagus kalau sebelum dilepas ke masyarakat luas, ada komunikasi atau klarifikasi mendapatkan penjelasan dari saya. Tapi itu sudah terjadi. Apa yang diberitakan oleh sindonews.com, yang mengambil berita dari wikileaks, judulnya pun seram, "Ungkap Dugaan Korupsi, Wikileaks Sebut SBY dan Mega"

Disebutkan beberapa kalimat disitu, situs anti kerahasiaan wikileaks, merilis perintah pencegahan pemerintahan Australia utk mengungkap kasus dugaan korupsi para tokoh dan pemimpin Asia. Dari beberapa tokoh itu, nama Presiden SBY dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri ikut disebut wikileaks. Menurut dokumen wikileaks per tanggal 29 Juli 2014, ada kasus dugaan korupsi multi juta dolar yg secara eksplisit melibatkan beberapa tokoh, dan pemimpin Asia, seperti Indonesia, Malaysia dan Vietnam, termasuk warga dan pejabat senior masing-masing negara itu.

Dikatakan lebih lanjut oleh sindonews.com, perintah super untuk memerintahkan keamanan nasional Australia, untuk mencegah pelaporan tentang kasus ini oleh siapa saja. Tujuannya untuk mencegah kerusakan hubungan internasional Australia. Begitu yang diungkapkan. Wikileaks juga menyebut ada 17 individu dalam kasus itu, tentu di seluruh Asia, negara-negara yang disebut-sebut.

Berita seperti ini saya tahu cepat beredar, dan kemudian karena sangat sensitif dan menyangkut kehormatan dan harga diri, baik Ibu Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden Indonesia, maupun saya sendiri, maka saya ambil keputusan tadi pagi untuk melakukan sesuatu untuk bertindak dan kemudian mengeluarkan pernyataan, yang alhamdulillah bisa kita laksanakan sekarang ini dan terima kasih atas kesediaan teman-teman wartawan untuk meneruskan apa yang saya sampaikan kepada saudara-saudara kita rakyat Indonesia, karena pemberitaan wikileaks dan sindonews.com itu saya nilai mencemarkan dan merugikan nama baik Ibu Megawati dan saya sendiri. Juga menimbulkan spekulasi dan bisa-bisa fitnah nanti terhadap baik Ibu Mega maupun saya. Saya katakan tadi, setiap saya mengeluarkan pernyataan, haruslah berangkat dari fakta, keterangan dan informasi yan lengkap. Oleh karena itu, sejak tadi pagi saya bekerja untuk mendapatkan informasi dan keterangan itu, dan karena saya anggap sudah cukup, insya Allah akan segera saya sampaikan. Saya berharap pernyataan saya didengar oleh wikileaks, dimanapun wikileaks berada, oleh sindonews.com pimpinan-pimpinannya dan juga wartawannya, oleh pemerintah dan otoritas Australia dan bahkan saya juga berharap didengar oleh KPK. Karena saya ingin segala sesuatunya terang benderang di negeri ini. Semangat kita sama, untuk melakukan pencegahan pemberantasan korupsi, karena diberitakan seolah-olah ada korupsi. Saya berharap saudara-saudara yang ada di KPK juga bisa mendengarkan apa yang saya sampaikan ini.

Saudara-saudara,
Saya telah mendapatkan penjelasan, dan keterangan dari sejumlah pihak, antara lain Gubernur BI Saudara Agus Martowordojo melalui telepon. Yang kedua Menkeu Saudara Chatib Basri melalui telepon, kemudian Kapolri. Esensi atau rangkuman penjelasan Gubernur BI/Menkeu antara lain sebagai berikut:

1. Memang benar Indonesia pernah mencetak uang di Australia, dilaksanakan pada tahun 1999. Yang mencetak dikatakan adalah NPA (Note Printing Australia) dan organisasi itu berada dalam naungan Bank Central Australia. Yang dicetak pada tahun 1999 adalah 550 juta lembar, dengan pecahan 100 ribu rupiah. Saya ulangi, 550 juta lembar, pecahan 100 ribu rupiah. Itu fakta yang pertama.

2. Keputusan, kebijakan, pengawasan dan kewenangan untuk mencetak uang itu termasuk mencetak uang di Australia pada tahun 1999 ada pada Bank Indonesia, bukan pada pemerintah, bukan pada presiden. Itu yang kedua

3. Hal itu memang menjadi kewenangan BI, serta menjadi tugas BI atas dasar atau sesuai dengan UU BI dan peraturan yang berlaku bagi BI. Ada landasan hukum, ada legal basis.

4. Baik Ibu Mega maupun saya sendiri tahun 1999 belum menjadi Presiden.

Tapi poin saya adalah, ya memang itu kewenangan BI, siapapun presidennya saat itu, atau saat uang itu dicetak di Australia, tidak terlibat dalam arti mengambil keputusan, menetapkan kebijakan ataupun mengeluarkan perintah-perintah presiden.

Dengan demikian, dengan 4 fakta dan hal penting itu, berita yang dikeluarkan wikileaks yang diamplifikasi oleh sindonews.com tentu sesuatu yang menyakitkan.

Saudara-saudara,
Saya juga mengikuti apa yang sedang dilaksanakan di Australia. Menlu telah melaporkan kepada saya, setelah berkomunikasi dengan Dubes kita di Canberra, maupun Dubes Australia yang ada di Indonesia, dan atas penjelasan yang disampaikan kepada saya tersebut, proses penegakan hukum yang sedang berlangsung di Australia, saya justru berharap, saya meminta kepada pemerintah dan otoritas Australia untuk;

1. Membuka dan mengungkap seterang mungkin penegakan hukum itu. Jangan ditutup-tutupi.

2. Kalau ada elemen di Indonesia, misalnya, siapa yang dianggap terlibat pada penyimpangan yang mungkin terjadi pada pencetakan uang itu tolong diungkap, ditunjuk dan nantinya diusut siapa orang itu. Kalau dianggap melanggar hukum apa kasus dan pelanggaran hukumnya. Dan saya justru berharap, kalau memang ada, bekerjasamalah dengan KPK Indonesia. Bekerjasamalah dengan KPK Indonesia. 

3. Jangan justru pemerintah Australia mengeluarkan kebijakan dan statement yang kemudian malah menimbulkan kecurigaan atau tuduhan terhadap pihak-pihak diluar Australia. Contohnya disebut mantan Presiden Megawati dan saya sendiri, atau pun siapapun. Justru kebijakan seolah-olah melibatkan pihak-pihak diluar Australia itulah yang saya tidak menghendaki, karena menimbulkan kecurigaan di Indonesia dan tentunya juga negara-negara lain di Asia

4. Saya minta Australia segera keluarkan statement yang terang, agar nama baik Ibu Mega dan saya sendiri tidak dicemarkan, agar tidak ada kecurigaan pejabat Indonesia lainnya. Dan itu penting kita ingin dengar langsung dari Australia.

5. Kemudian yg ke-5, menggarisbawahi jika memang ada WNI yang terlibat mari kita tegakkan hukum secara bersama. Indonesia seperti juga Australia adalah negara hukum. Kami menghormati hukum. Indonesia sekarang ini tengah melaksanakan kampanye pemberantasan korupsi yang agresif tanpa pandang bulu, jadi kalau memang ada yg dianggap terlibat, ungkap, usut dan proses secara hukum. Mari kita bekerja sama yang penting terang, sebutkan siapa.

Kalau memang Australia mengatakan, saya dengar yang diberitakan wikileaks tidak benar, tidak akurat, tidak diklarifikasi, tidak diverifikasi, ya bicaralah Australia, jangan diam. Karena kalau diam itu menimbulkan spekulasi baru di Indonesia, yang sesungguhnya tidak perlu terjadi. Itulah yang ingin saya sampaikan saudara-saudara dan karena sekali lagi kewenangan dan tugas untuk melakukan pencetakan uang itu berada di tangan BI, saya berpesan kepada Saudara Deputi Senior tadi, agar pada saat yang tepat Gubernur BI bisa memberikan penjelasan yang lengkap, lebih rinci dan lebih teknis. Sekali lagi kita ingin transparansi, kita junjung bersama, tegakkan kebenaran karena dengan tegakkan kebenaran kita mendapatkan keadilan. Jangan orang-orang yang tidak tahu menahu, yang tidak berdosa mendapatkan pencemaran nama baiknya, sehingga keadilan tidak tegak. Itulah pesan dan harapan saya selaku presiden RI, kepada kita semua termasuk Australia. Dengan demikian kami akan terus emban tugas sampai akhir penugasan kami dengan baik tanpa ada persepsi yang tidak baik, kecurigaan apalagi fitnah-fitnah baru yang dijatuhkan kepada saya, juga kepada Ibu Megawati atau kepada siapapun. Itulah yang ingin saya sampaikan terima kasih perhatiannya. 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mengenal lebih jauh Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin Negara Islam ( ISIS )

abu bkar al baghdadi
Baghdadi dipandang lebih memiliki pengetahuan Islam dibandingkan Bin Laden dan al-Zawahiri.

Tanggal 5 Juli, Abu Bakr al-Baghdadi, yang dikenal di antara para pendukungnya sebagai Khalifah Ibrahim, untuk pertama kalinya memperlihatkan wajahnya pada khotbah hari Jumat di Mosul, Irak.
Sebelumnya beberapa fotonya memang dibocorkan, tetapi Baghdadi sendiri tidak tampil di muka umum selama empat tahun sejak menjadi pemimpin kelompok yang sebelumnya bernama Negara Islami Jihadis Irak, nama sebelum ISIS, yang sekarang menjadi Negara Islami.

Sebelum April 2013, Baghdadi juga tidak terlalu banyak mengeluarkan pesan audio.
Pernyataan tertulis pertamanya adalah sambutannya terhadap tewasnya Osama Bin Laden pada bulan Mei 2011.
Pesan audio pertamanya dikeluarkan bulan Juli 2012, berisi ramalan kemenangan Negara Islam di masa depan.
Sejak kemunculan kelompok tersebut, 15 bulan lalu, informasi tentang Baghdadi yang disediakan untuk media meningkat.
Jumlah informasi khusus tentang latar belakangnya juga bertambah.

Keturunan Nabi Muhammad

Bulan Juli 2013, ahli ideologi asal Bahrain, Turki al-Binali, yang menggunakan nama Abu Humam Bakr bin Abd al-Aziz al-Athari, menulis biografi Baghdadi terutama untuk menggarisbawahi sejarah keluarga Baghdadi.
Dia menyatakan Baghdadi memang keturunan Nabi Muhammad, salah satu persyaratan kunci dalam sejarah Islam untuk menjadi khalifah atau pemimpin semua warga Muslim.
baghdadi
Sebelumnya tidak begitu banyak foto Baghdadi yang beredar.


Baghdadi dikatakan berasal dari suku al-Bu Badri, yang sebagian besar berada di Samarra dan Diyala, Baghdad utara dan timur, dan secara historis penduduknya dikenal sebagai keturunan Muhammad.
Turki al-Binali kemudian menyebut bahwa sebelum invasi Amerika Serikat terhadap Irak, Baghdadi menerima gelar doktor dari Universitas Islamis Baghdad, yang memusatkan kajian pada kebudayaan, sejarah, hukum dan jurisprudensi Islam.
Baghdadi sempat berkhotbah di Masjid Imam Ahmad ibn Hanbal di Samarra.
Dia memang tidak memiliki gelar dari lembaga keagamaan Sunni seperti Universitas al-Azhar di Kairo atau Universitas Islami Madinah di Arab Saudi.
Meskipun demikian dia lebih memiliki pengalaman pendidikan Islam tradisional dibandingkan pemimpin al-Qaida, Osama Bin Laden dan Aymen al-Zawahiri, yang keduanya adalah orang biasa, insinyur dan dokter.
Karena itulah Baghdadi menerima pujian dan legitimasi yang lebih tinggi di antara pendukungnya.

Menjadi pemimpin

Setelah invasi AS terhadap Irak di tahun 2003, Baghdadi dan beberapa rekannya mendirikan Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ), Angkatan Bersenjata Kelompok Warga Sunni, yang beroperasi dari Samarra, Diyala, dan Baghdad.

isis
Negara Islam berusaha menguasai daerah kaya minyak di Irak dan Suriah.


Di dalam kelompok ini, Baghdadi menjadi pemimpin dewan hukum. Pasukan pimpinan AS menahannya dari bulan Februari-Desember 2004, tetapi membebaskannya karena Baghdadi tidak dianggap sebagai ancaman tingkat tinggi.
Mengikuti jejak al-Qaida di Tanah Dua Sungai mengubah nama menjadi Majlis Shura al-Mujahidin (Dewan Syura Mujahidin) pada permulaan tahun 2006, pimpinan JJASJ menyatakan dukunganya dan penggabungan diri.
Di dalam struktur baru, Baghdadi bergabung dalam dewan hukum.
Tetapi tidak lama kemudian organisasi mengumumkan perubahan nama kembali di akhir tahun 2006 menjadi Negara Islam Irak (ISI) Baghdadi menjadi pengurus umum dewan hukum provinsi di dalam "negara" baru disamping anggota dewan penasehat senior ISI.
Ketika pimpinan ISI, Abu Umar al-Baghdadi, meninggal pada April 2010, Abu Bakr al-Baghdadi menggantikannya.

Tokoh sejarah?

Sejak menjadi pemimpin Negara Islam, Baghdadi membangun dan membangkitkan kembali organisasi yang berantakan karena kebangkitan kesukuan Sunni yang menolaknya sementara di saat yang sama kekuatan militer AS juga meningkat.
Dibandingkan dengan usaha pertama Negara Islam untuk berkuasa dalam sepuluh tahun terakhir, sampai sejauh ini, walaupun masih menggunakan kekerasan, mereka dipandang lebih berhasil meskipun tetap timbul pertanyaan tentang kelangsungannya dalam jangka panjang.
Keberhasilan ini sebagian karena mereka menggabungkan penerapan hukum keras dengan layanan sosial, disamping juga strategi pemberian umpan.
Jika ditelaah, Negara Islami menargetkan wilayah di sepanjang Sungai Efrat dan Tigris di samping daerah yang memiliki minyak di Irak dan Suriah.
Baghdadi dan pemimpin Negara Islami lain menyadari monopoli atas energi dan peningkatan kekuatan militer akan memudahkan penghimpunan kekuatan.
Tidak bisa diramalkan secara persis nasib Negara Islam di masa mendatang, tetapi Baghdadi jelas membuat organisasinya menjadi lebih dikenal dunia.

Oleh: Aaron Y Zelin, Washington Institute for Near East Policy
Sumber: BBC