Aktivis 98 Tolak Capres Berunsurkan Orde Baru

Masinton Passaribu
Aktivis 98 menolak capres yang berunsurkan orde baru. Ada dua unsur yang patut diwaspadai oleh orde baru yaitu ABRI dan Partai Golkar.
"Harus ada perubahan di masyarakat, jangan sampai capres tidak diwarnai perubahan baru lagi, dan kedua unsur yang mendominasi ini adalah ABRI dan Golkar," kata Masinton Pasaribu, salah satu aktivis 98 yang menjadi caleg dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Minggu (4/5/2014).
ABRI dan Golkar adalah elemen yang selama ini menjadi penopang bagi keberlangsungan orde baru. Kedua elemen ini harus dihilangkan agar dapat menghasilkan kepemimpinan yang baru.
Kasino, salah satu aktivis orde baru juga menekankan agar unsur-unsur lama tidak terjadi lagi di era kepemimpinan baru ini. Sebab ada sebuah sejarah yang tidak bisa dihilangkan atas keruntuhan ekonomi pada masa orde baru.
"Kita tidak bisa amnesia sejarah bahwa ada kekerasan dan pembungkaman politik pada masa orde baru, dan ABRI yang terlibat dalam kekerasan HAM serta Partai yang selama ini berkuasa pada zaman orde baru tidak bisa diberikan kepercayaan untuk memimpin bangsa ini," katanya./Tribunnews.com

Hanya Joko Widodo yang salat Ashar di ruangan Mbah Mun

Joko Widodo dan Kiai Maimun Zubair | Merdeka.com
Bakal calon presiden PDI Perjuangan (PDIP) Joko Widodo (Jokowi) bersilaturahmi ke Pondok Pesantren (Ponpes) Al Anwar, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Minggu (4/5). Karena tiba mendekati waktu salat Ashar, dia pun mendapatkan perlakuan khusus dari Kiai Maimun Zubair (Mbah Mun).

Jokowi dan Kiai Maimun nampak duduk bersandingan dan berbicara. Dalam pertemuan tertutup itu, mereka makan bersama. Setelah makan, Mbah Mun mempersilakan Jokowi masuk ke sebuah ruangan untuk menunaikan ibadah salat Ashar.

Ketua DPP PKB, Marwan Ja'far mengatakan, ketika Jokowi minta izin untuk salat, Mbah Mun mempersilakan menggunakan kamarnya. Sedangkan dia dan Ketua DPP NasDem, Effendi Choiri mengatakan juga minta izin salat tapi dipersilakan di ruangan lain.

"Iya benar, hanya Jokowi yang dipersilakan menggunakan ruangan Mbah Mun," kata Marwan yang ikut dalam kunjungan Jokowi ke Ponpes Al Anwar.

Seperti diketahui, Sebelumnya, bakal calon presiden dari Partai Gerindra Prabowo Subianto juga mengunjungi pondok Mbah Mun. Prabowo didampingi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharma Ali.

Pertemuan antara Mbah Mun yang juga Ketua Majelis Syariah PPP dengan Prabowo Subianto yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra serta Surya Darma Ali berlangsung tertutup./Merdeka.com

Kivlan Zen Mengaku tahu dimana Wiji Thukul dkk ditahan

Kivlan Zen
Di tengah hiruk pikuk pencapresan, kasus penghilangan paksa 13 aktivis pada 1998 kembali mencuat. Pemicunya adalah ucapan Mayor Jendral (Purn) Kivlan Zen di acara Debat tvOne pada Senin (28/4) malam. Mantan Kepala Staf Kostrad itu mengaku tahu di mana 13 aktivis itu 'dihilangkan'. Untuk diketahui, Kivlan menjabat sebagai Kakostrad pada 1998 atau saat Pangkostrad dijabat Letjen Prabowo Subianto .

"Yang menculik dan hilang, tempatnya saya tahu di mana, ditembak, dibuang," kata Kivlan dalam debat yang dipandu pembawa acara Alfito Deannova.

Bahkan, Kivlan mengatakan, jika nanti disusun sebuah panitia untuk menyelidiki lagi kasus penghilangan 13 aktivis itu, dia bersedia bersaksi.

"Kalau nanti disusun nanti suatu panitia, saya akan berbicara ke mana ke-13 orang itu hilangnya, dan di mana dibuangnya," ujar Kivlan dengan nada berapi-api.

Dalam acara debat itu, Kivlan diposisikan sebagai pembela Prabowo Subianto , mantan Danjen Kopassus yang dituding bertanggung jawab atas penghilangan paksa tersebut. Di kubu Prabowo, ada juga Wakil Ketua Umum Partai Gerinda Fadli Zon .

Sedangkan di kubu lain ada Al Araf dari Imparsial dan Alvon Kurnia dari YLBHI. Bersama sejumlah LSM, dua lembaga itu adalah yang menyatakan menolak capres pelanggar HAM. Dalam penolakannya, mereka dengan tegas menyebut nama Prabowo Subianto , capres Partai Gerindra .

Operasi sampingan

Sebelum mengucapkan tahu di mana Wiji Thukul dkk dihilangkan, Kivlan membela bahwa Prabowo tidak terlibat kasus penculikan 13 orang, sebagaimana disebut para aktivis LSM. Dia menyebut Prabowo hanya melakukan tindakan 'pengamanan' terhadap 9 aktivis yang lain dan kini mereka sudah kembali. Beberapa diketahui sudah bergabung ke Gerindra .

Tindakan oleh Prabowo itu, kata Kivlan, dilakukan untuk menghindari gangguan keamanan sebelum sidang umum MPR 1998. Soal 13 yang masih hilang hingga kini, Kivlan menuding adanya 'operasi sampingan' yang bergerak.

"Di mana-mana operasi militer itu dilakukan ada yang namanya double agent," kata Kivlan yang pernah mendeklarasikan diri sebagai capres pada 2009 silam ini.

"Operasi sampingan intelijen (oleh) lawan kepada Prabowo, saya tahu benar siapa lawan Prabowo," imbuhnya.

Seperti diketahui, dalam pergolakan 1998 masih ada 13 aktivis yang hilang hingga kini. Mereka adalah Wiji Thukul, Petrus Bima Anugrah, Herman Hendrawan, Suyat, Yani Afri, Sonny, Dedi Hamdun, Noval Al Katiri, Ismail, Ucok Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin dan Abdun Nasser.

Sementara itu, Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) menganggap penting informasi dari Kivlan tersebut.
"Bagi beberapa orang, mungkin ini bukan berita baru. Tapi IKOHI menganggap, informasi ini penting karena Kivlan Zen adalah pejabat militer (ABRI) ketika peristiwa terjadi. Ia punya otoritas sebagai representasi alat negara. Oleh karena itu, pengakuan Kivlan Zen yang disaksikan jutaan pasang mata harus ditindaklanjuti," kata Koordinator IKOHI, Mugiyanto, dalam pernyataan terbuka di blog-nya.

Mugiyanto mengatakan, memang Komnas HAM sudah selesai melakukan penyelidikan untuk kasus penghilangan paksa periode tahun 1997-1998 ini sejak November 2006.

"Namun, karena berkas penyelidikan ini masih disengketakan oleh Komnas HAM dan Kejaksaan Agung, di mana Jaksa Agung menganggap belum lengkap, yang karenanya kasus ini tidak segera disidik dan dituntut di Pengadilan HAM, maka adalah kami memandang Komnas HAM punya kewajiban untuk menindaklanjuti pernyataan Kivlan Zen," lanjut Mugiyanto.

Namun demikian, gayung tidak disambut Komnas HAM. Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, mengatakan pihaknya tidak akan menindaklanjuti pernyataan Kivlan Zen tersebut. Menurutnya, penyataan Kivlan sudah tertulis dalam berkas penyelidikan Komnas HAM yang sudah rampung dan dikirim ke Kejaksaan Agung.

"Itu kan pernyataan pribadi dan data Kivlan sudah ada di penyidikan Komnas HAM. Kivlan kalau sudah tahu sampaikan saja ke publik saja, buka di publik dan ke media," ujar Pigai saat dihubungi merdeka.com, Jumat (2/5).

Mengenai adanya anggapan Kejaksaan Agung enggan melanjutkan penyidikan karena ada sengketa dalam berkas, Pigai membantahnya. Menurut Pigai, berkas Komnas HAM sudah lengkap dan data-data yang dimiliki sudah terpenuhi.

"Tidak ada yang namanya (berkas) bolong, Kejaksaan saja yang tidak mau saja," katanya.

Untuk itu, Pigai berharap presiden mendatang mampu menuntaskan masalah pelanggaran HAM berat di masa lalu. "Setiap capres harusnya datang ke Komnas HAM lalu sampai kan visi misi jaminan Komnas HAM mengatasi pelanggaran-pelanggaran," tuturnya.

Khofifah Jadi Jubir Joko Widodo

Joko Widodo bersama Khofifah  | Kompas.com/Ahmad Faizal
Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menyatakan siap menjadi juru bicara (jubir) bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.
Khofifah beralasan, ia sudah mengenal Jokowi karena sering bertemu sejak Jokowi menjabat Wali Kota Solo. "Setelah deklarasi saya merasa banyak hal yang saya Insya Allah bisa bersinergi," terang Khofifah di kediamannya di Surabaya, Sabtu (3/5/2014).

Khofifah menegaskan, dia tidak melanggar peraturan dalam organisasi NU dengan menjadi jubir Jokowi. Sejauh ini kalangan NU pun tidak mempermasalahkannya, ujar Khofifah. "Kalau di AD/ART-nya NU, kan ada larangan rangkap jabatan. Tapi ini kan bukan jabatan politik," katanya.

Menurut Khofifah, Jokowi membutuhkan juru bicara untuk menjawab, merespons, dan melakukan konfirmasi suatu hal berkaitan dengan Pilpres 2014 yang tidak bisa disampaikan langsung oleh Jokowi. Meskipun demikian, Khofifah mengaku belum mendapat tugas secara rinci sebagai jubir. Menurut Khofifah, nantinya akan ada beberapa jubir yang dibagi dalam berbagai bidang. "Mungkin ada yang bagian politik siapa, bagian sosial kemasyarakatan siapa, bagian ekonomi siapa," terangnya.

Sebelumnya, pernyataan Khofifah menjadi jubir disampaikan langsung oleh Jokowi ketika menyambangi kediaman Khofifah di Surabaya.

Jokowi juga mengaku telah lama berteman dengan mantan calon Gubernur Jawa Timur itu. Menurut Jokowi, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu memiliki rekam jejak yang baik. /Kompas.com

Barisan Relawan Jokowi Presiden 2014 Bentangkan Spanduk dari Balaikota DKI Jakarta ke Istanan Negara

Spanduk Bara JP   | Kompas.com/Arimbi R
Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) 2014 membentang spanduk sepanjang 1.709 meter di depan Balaikota Jakarta, Minggu (4/5/2014). Spanduk ini beriringan dibawa oleh simpatisan hingga ke Istana Negara, Jakarta. Kegiatan ini merupakan analogi yang mengantarkan Jokowi dari jabatannya sebagai gubernur menjadi pesiden.

Wakil Sekretaris Jenderal Bara JP, Vivi Jkw, mengatakan, ini adalah bentuk dukungan pada Jokowi untuk menjadi presiden 2014. Rakyat, katanya, membutuhkan presiden yang prorakyat seperti Jokowi.

"Kami yakin hanya Jokowi yang pantas duduk di istana," kata Vivi lantang.

Vivi menuturkan, para relawan yang turun membentangkan spanduk berasal dari Jakarta, Banten, Bogor, Bekasi, Cikarang, Purwakarta, Semarang, Medan, Bengkulu, Papua, Aceh, dan berbagai daerah lain. Mereka datang secara sukarela dan tidak dibayar. Spanduk ini berisi tanda tangan masyarakat.

Bara JP telah menggalang tanda tangan sejak awal berdiri Juli 2013. Penggalangan tanda tangan digelar setiap Minggu di Bundaran HI, Monas, dan Gelora Bung Karno saat acara car free day. /Kompas.com

Korban Pelecehan Seksual oleh Emon Mencapai 57 Orang

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait menyatakan sampai kini jumlah anak yang menjadi korban kekerasan seksual Andri Sobari (24) alias Emon, predator seks asal Sukabumi, Jawa Barat, terus bertambah.
Menurut Arist, dari pendataan yang dilakukan pihaknya melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) Perlindungan Anak, kini jumlah korban sodomi Emon kembali bertambah menjadi 57 anak.
"Sabtu siang, korban kekerasan seksual pelaku jumlahnya 55 anak dan sudah lapor polisi. Laporan terakhir Sabtu malam, jumlahnya bertambah menjadi 57 anak," kata Arist saat dihubungi Warta Kota, Minggu (4/5/2014)
Arist mengatakan timnya telah mendatangi para korban dan keluarga korban, untuk memberikan dukungan dan rencana pendampingan guna pemulihan trauma anak yang menjadi korban kekerasan seksual Emon.
"Tim kami sudah ada di Sukabumi sejak kemarin dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat. Kami akan berikan trauma healing setelah para korban di BAP polisi," ujar Arist.
Seperti diketahui Andri Sobari alias Emon diduga melakukan pencabulan anak di bawah umur (paedofil). Dia mengaku telah mencabuli 47 bocah di Sukabumi, Jawa Barat.
Aksi Emon terbongkar setelah orang tua salah satu korban yang berusia 11 tahun melapor ke polisi. Bocah tersebut mengaku dicabuli Emon di lokasi Pemandian Liosanta Citamiang, Kota Sukabumi, Minggu (27/4/2014). Polisi lalu membekuk Emon, Kamis (1/5/2014) di rumahnya.
Kepada polisi Emon mengaku sudah menyodomi puluhan anak sejak tahun sejak 2013 lalu. Bocah-bocah yang disodomi rata-rata berusia 6-13 tahun.
Hampir semua korban bermukim di lingkungan sekitar tempat tinggal Emon. Modusnya Emon menjanjikan uang Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu kepada korban sebagai syarat agar mau dicabuli.
Berdasarkan hasil visum polisi, ada 3 korban mengalami luka di bagian anus. Dalam pemeriksaan, Emon mengaku pernah disodomi saat SMP. Dari pengalaman itu, Emon melakukannya kepada anak-anak sebagai dampak dirinya yang pernah disodomi. /Tribunnews.com

Mengenal Sisi Lain Joko Widodo dari Buku Spirit Bantaran Kali Anyar

Ir. H. Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta

Bapak Ir. H. Joko Widodo atau yang biasa dipanggil Jokowi adalah mantan Walikota Surakarta (Solo) yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kepemimpinan  Joko Widodo membawa inspirasi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang merindukan sosok pemimpin yang benar-benar merakyat. Gaya kepemimpinan dengan turun langsung bertemu masyarakat (blusukan) merupakan cara mendekatkan pemimpin dan rakyatnya.  

Cober buku Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar oleh Domu D. Ambarita, dkk

Elex Media Komputindo melaunching buku Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar, di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta, Jumat (14/9/2012).Launching buku yang semula rencananya akan dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo secara langsung ini, berlangsung meriah dan dihadiri oleh Ibunda Jokowi, Sujiatmi Notomihardjo.
Buku yang ditulis oleh Domuara D. Ambarita, Albert Joko, Yogi Gustaman, Ade Rizal Aviyanto, dan FX Ismanto ini mencoba menghadirkan sosok Joko Widodo dalam sudut pandang yang berbeda.
Sujiatmi Notomihardjo, Ibunda Joko Widodo
Tim penulis yang merupakan para pekerja media di Tribun Network menghabiskan banyak waktu bersama Jokowi sehingga menghasilkan kisah-kisah yang mendalam belum pernah terungkap dari seorang Jokowi.Buku setebal 257 halaman ini memuat rangkuman kehidupan Jokowi. Mengungkap kehidupan pribadi sampai dengan perjalanan karir politik Jokowi yang fenomenal. Termasuk, berbagai kisah kepemimpinan dan teladan yang sudah diperlihatkan Jokowi sejak kecil.
Buku ini menghadirkan spirit kepemimpinan Jokowi yang sudah terlihat sejak masa kecilnya. Kisah-kisah lucu diseputar kehidupan sang calon gubernur, serta kenangan orang-orang di dekat Jokowi yang pernah punya sejarah dengannya.
Dalam buku yang pengantarnya ditulis oleh Mantan Presiden RI dan Ketua Umum PDI Perjuangan ini juga dijabarkan beragam kisah kesuksesan dan reportase-reportase yang belum terungkap dari seorang Jokowi, sang spirit dari bantaran Kali Anyar.
Dalam sabutannya pada acara Launching buku ini Sujiatmi menuturkan bahwa dirinya sama sekali tidak menyangka putra sulungnya itu akan menjadi seorang Walikota, apalagi menjadi Gubernur. "Ditaksirnya itu jadi pengusaha kayu, soalnya kakeknya, pakdenya kan pengusaha kayu, bapaknya juga tapi tidak  besar," tutur Sujiatmi.

Badan kurus, stamina oke.
Banyak orang bertanya-tanya, apa rahasia stamina oke Joko Widodo (Jokowi), calon gubernur Jakarta itu?
Kalau melihat postur badannya yang kurus, tapi anehnya Jokowi seolah tiada pernah kehabisan energi mengunjungi warga dengan frekuensi tinggi tiap harinya. Jokowi juga jarang sakit. "Pak Jokowi itu juga tahan lapar," celetuk Basuki Purnama alias Ahok, Calon Wakil Gubernur Jakarta, pendamping Jokowi, suatu ketika.
Rupanya, ada ramuan jamu khusus pembangkit stamina Jokowi yang diracik istri tercinta. Seperti apa jamunya? Baca buku "Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar" karya Domu D Ambarita yang diluncurkan di Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta, Jumat (14/9/2012).  
Buku yang pengerjaannya juga dibantu Albert Joko, Yogi Gustaman dan Ade Rizal Aviyanto ini memang banyak mengungkap 'The Untold Stories" seputar Jokowi di luar sepak terjangnya di panggung politik nasional maupun lokal (Solo).
Seperti sikap Jokowi ketika pengawalnya kecopetan. Ada juga kisah menarik tangan Jokowi yang ada luka membekas akibat cakaran kuku.
Tak banyak yang tahu, di Solo Jokowi mencopoti sejumah bawahannya yang nakal, termasuk di jajaran lurah. Juga, tentang cerita menarik tujuh lelaki 'kutilang' (kurus tinggi langsing) ini tak pernah mengambil gajinya serta menolak kawalan ketat  mobil Voorijder saat menjalankan tugas sebagai Walikota Solo?
Dengan postur badan menjulang tinggi, ternyata berat badan Joko Widodo (Jokowi) cuma 53 kilogram.
Bisa dibayangkan dong, betapa tak idealnya berat badan Gubernur Jakarta Terpilih ini. Rupanya, kurusnya badan Jokowi ini menyisakan banyak cerita lucu dan sering jadi bahan guyonan teman-teman dekatnya.
Salah satunya, Wakil Wali Kota Solo, Fransiskus Xaverius Hadi Rudyatmo. Ketika ditemui penulis buku "Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar" di rumah dinas di Jalan Gajah Mada, Senin (20/8/2012) sore silam, Rudyatmo bertutur, mereka berdua sebenarnya punya kesamaan.
"Kami tampaknya sama, tinggal di bantaran kali dan pernah jadi korban gusuran," kata Rudy, Ketua DPC PDI Perjuangan Solo. Terkait kurusnya badan Jokowi, Rudy memiliki pengalaman unik saat berkampanye pada pemilihan wali kota Solo tahun 2005.
"Pak Jokowi pernah tertinggal, waktu kampanye pertama. Di daerah Adipito, Adingipang. Saya yang membonceng beliau pakai motor. Saya kira dia sudah naik, ternyata karena kurus, Pak Jokowi masih tertinggal tapi tidak terasa. Karena kurus, naik atau tidak, rasanya sama saja. Hahahaaa... Ternyata dia tertinggal 500 meter di belakang! " kata Rudy, terbahak.
Ketika ditanyakan mengenai perangai kerja keras Jokowi selama tujuh tahun menjabat wali kota, Rudy pun membenarkannya. "Kami 24 jam bekerja. Sering sekali, misalnya ada banjir, saya tahu duluan karena orang lapangan. Yang lain belum tahu, saya sudah kasih tahu Pak Wali. Wali segera meluncur ke lapangan, dan saya sudah di lokasi bencara, menunggu," kata laki-laki berkumis lebat ini.
Kerja keras yang mereka lakukan ini adalah sebagai perwujudan pemimpin yang datang untuk melayani, bukan dilayani. Bahkan sejak masa kampanye periode pertama, tujuh tahun silam, mereka bekerja seperti dilakukan di Jakarta. Mengunjungi dan berdialog dengan warga ke permukiman, bahkan ke tempat kumuh sekalipun.
"Kami masuk ke gang miring, gang bau, dan gang bungkuk. Di sebut gang miring bukan karena letaknya miring, tapi karena betul-betul sempit sehingga untuk masuk saja badan harus dimiringkan. Dan gang bungkuk, untuk bisa masuk harus membungkuk di antara bangunan kumuh dan bau," kenang Rudy.
Selama lima tahun pertama, Jokowi bekerja melayani warga Solo. Membuat bermacam gebrakan, memberi pendidikan dan pengobatan gratis bagi rakyat miskin, memindahkan PKL melalui diplomasi meja makan sebelum memindahkan mereka ke tempat lain, serta kegiatan lainnya.
Seturut dengan perjalanan waktu dan komunikasi yang cukup intens, Rudy menyimpulkan pribadi Jokowi sebagai orang yang low profile, tegas tanpa harus keras, tegas namun bukan kekerasan yang dikedepankan.
"Saya mau mengajak Jokowi untuk berbuat kepada masyarakyat. Dan dia memang mengatakan ingin berbuat juga, karena dia belum pernah berorganisasi dari sekolah sampai kuliah. Karena lima tahun pertama kami bekerja untuk warga Solo, maka pada pemilihan periode kedua, kami tidak ada kampanye, tapi terpilih lagi," kata Rudy, politisi kawakan yang sudah 36 tahun bergabung PDIP, sebelumnya bernama PDI.


Rumah di gusur, tiga kali pindah kontrakkan
Tak perlu ragu apakah Joko Widodo (Jokowi) akan serius bekerja hingga demi kebaikan Jakarta. Postur 'kutilang' (kurus tinggi langsing) Gubernur Jakarta terpilih ini sudah jadi bukti kalau Jokowi sampai lupa makan karena larut memikirkan tugas negara.
Mau tahu berat badan Jokowi saat ini?
"Badan saya tinggal ini. Sekarang berat badan saya tinggal 53 kilo, udah kurus, habis karena bekerja terus. Saya memang bekerja, dan bekerjanya di lapangan terus, karena sudah terbiasa begitu. Kalau nanti jadi (Gubernur DKI, - penulis) yang bisa disuruh lebih kerja keras lagi itu si Ahok, berat badannya masih bisa diturunkan," Jokowi bertutur, sebagaimana dikutip buku "Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyaran" terbitan PT Elex Media Komputindo.
Sepenggal kutipan itu diucapkan Jokowi saat menemui relawan dari unsur komunitas perantau di Jakarta, dalam acara yang dilaksanakan di markas Jokowi Center di Jl. Ki Mangun Sarkoro, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/2012) silam.
Ya, Joko Widodo memang super sibuk. Apalagi sejak awal tahun 2012, tepatnya setelah dia diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan sejumlah partai non-parlemen lainnya, untuk maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta periode 2012-2018.
Pada pemungutan suara putaran pertama 11 Juli 2012, di luar dugaan publik atas dasar ekspose hasil penelitian lembaga survei, Jokowi yang berpasangan dengan mantan Bupati Belitung Timur, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, keluar sebagai peraih suara terbanyak. Selain menyingkirkan empat pasangan calon lainnya yang diusung partai-partai besar, Jokowi-Ahok juga mengungguli calon petahana (incumbent), Fauzi Bowo (Foke) - Nachrowi Ramli (Nara).
Lebih fantastis lagi, di putaran kedua Pilkada Jakarta, 20 September 2012, Jokowi mencetak angka berbalikan dibanding Foke. Jokowi 54 persen lebih, sementara Foke 45 persen lebih versi sebuah Quick Count, alias berselisih lebih tinggi sembilan persen!
Banyak orang bertanya, bagaimana ia membagi energinya sebagai Walikota Solo dan memikirkan pemenangan Pilkada Jakarta?
"Sabtu - Minggu saya ada di Jakarta, sedangkan Senin-Jumat saya di Solo," kata Jokowi. Dia wara-wiri Solo-Jakarta menggunakan pesawat terbang, yang ongkosnya menggunakan dana pribadi, yang ia peroleh selaku pengusaha ekspor-impor mebel, bukan memanfaatkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Surakarta.
Dalam administrasi pemerintahan, kota yang dipimpinnya disebut Surakarta, tetapi masyarakat lebih mengenal kota perjuangan ini dengan sebutan Solo. Jumat sore, biasanya dia sudah tiba di Jakarta untuk melaksanakan kegiatan yang sangat padat, terutama berkunjung ke kampung-kampung dan gang-gang hunian warga, mengenalkan diri dan menyosialisasikan ide-ide serta program kerja.
Menurut Jokowi, usaha dan kerja keras yang dia lakukan adalah untuk sungguh-sungguh merealisasikan janjinya kepada warga Solo, yakni sebagai pemimpin yang melayani, bukan dilayani. "Memimpin harus dengan hati. Pertama-tama memangku warga, memanusiakan, meperlakukan mereka sebagai manusia, bukan sebagai sampah," kata Jokowi.
 Buku "Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar" memang berusaha lebih banyak mengulas kiprah Jokowi di luar panggung politik.
Dari sekitar 25 orang yang ditemui dan diwawancara penulis, antara lain warga, pedagang kaki lima, teman sepermainan sejak SD sampai SMP, teman satu sekolah, mantan guru, mantan pengasuh, hingga pejabat Pemkot Solo, Jokowi dilihat sebagai seorang pemimpin yang rendah hati dan pendiam. Walau begitu, Jokowi dianggap sebagai pemimpin besar yang berhasil, pejabat yang merakyat, peduli, bersih, dan antikorupsi.
Mengenai penilaian terhadap keberhasilannya, Jokowi berkata, "Saya pekerja, bukan politisi. Saya hanya berkerja dan bekerja. Saya tidak peduli penilaian orang, mau jelek, mau gagal, mau berhasil, yang penting saya bekerja."
Kepemimpinan yang dimiliki itu bukan turun dari langit, namun terinternalisasi seiring sejalan dengan pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam hidupnya. "Saya ini orang miskin, anak tukang kayu. Masa kecil saya, kami tinggal di bantaran kali. Tiga kali orangtua saya berpindah-pindah, mengontrak, karena tidak  punya rumah. Waktu di bantaran kali itu juga, rumah kami digusur pemerintah Solo, dan tidak diganti rugi. Itu semua memengaruhi saya," kata Jokowi.
Dia menambahkan, "Pemimpin yang lahir dalam keluarga kaya raya, dengan orang miskin tentu beda. Omongan boleh dibuat-buat, tetapi gestur tubuh dan mimiknya tidak bisa berbohong," kata Jokowi kepada penulis saat berada di mobil dinas wali kota Solo dalam perjalanan dari Terminal Tironadi di Jalan Ahmad Yani, menuju rumah dinas di Loji Gandrung, Jalan Slamet Riyadi.
Kalau ada orang lain yang menilai karyanya sebagai orang sukses, Jokowi tidak melarang. "Saya tidak mau memuji diri sendiri, tidak baik," kata laki-laki yang sudah 7 tahun memimpin kota Solo. Wali kota yang berpasangan dengan FX. Hadi Rudyatmo ini terpilih sejak 2005, dan terpilih lagi tahun 2010. Mereka berdua memimpin dengan tanpa mengambil gaji untuk dibawa ke rumah.
Struk gaji  ditandatangani, tetapi pengelolaan uang itu berada sepenuhnya di tangan sekretaris, yang kegunaannya pun seutuhnya diberikan untuk bantuan warga.  Bekerja tanpa pamrih, Jokowi tidak mau disebut pekerjaannya sebagai wali kota dikatakan sebagai bentuk pengabdian.
"Jangan pengabdian, terlalu tinggi. Kalau yang tinggi-tinggi, pengabdian, untuk politisi saja, sedangkan saya orang kerja. Terlalu tinggi pengabdian buat saya," kata Jokowi yang tidak berkenan disebut sebagai politisi.

Pernah gagal masuk SMA favorit
Punya cita-cita setinggi langit boleh saja, asal tetap realistis. Kalau tidak, akibatnya bisa seperti nestapa yang dialami Joko Widodo (Jokowi) di masa remajanya.
Setelah lulus dari sekolah favorit, SMP Negeri 1 Surakarta (Solo), teman-teman dekatnya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Solo. Sekolah yang juga punya nama dan menjadi incaran siswa baru di kota itu, termasuk Jokowi.
Namun ambisi Jokowi, nama pemberian pembeli mebel warga Negara Prancis, Mircl Romaknan, kandas. Ia terdepak dari siswa yang berhak duduk di SMA 1, dan harus bersekolah di SMA 6 Solo. Saat itu, SMA 6 adalah SMA negeri terbaru di Solo.  "Waktu tidak masuk di SMA 1, dia sudah murung kok. Dia di kamar saja, tidak mau keluar. Keluar kalau mau ke sekolah tok. Bahkan sampai dia sakit, panas, tipus," kata Sujiatmi, ibunda Jokowi, ketika ditemui di kediamannya kawasan Sumber, Jalan Plaret Raya, Solo, Sabtu 18/8/2012) pagi.
Jokowi yang duduk di samping Sujiatmi di bangku panjang berbahan jati menimpali. "Itulah, saya pernah gagal, sekali di sekolah," ujar pendiri perusahaan mebel PT Rakabu dan PT Rakabu Sejahtera, perusahaan ekspor mebel yang berbasis di Solo.
Jokowi gagal melewati proses seleksi melalui ujian masuk sekolah, bukan seperti sekarang yang menggunakan patokan nilai ujian nasional. "Dulu ngertilah, mungkin ada permainan. Saya lulus SMP 1, nilai bagus. Saya ingin masuk sekolah favorit. Saya hampir setengah tahun, murung, ngurung diri di kamar terus. Tidak selera sekolah. Baru kelas dua dan kelas tiga, rajin, ngebut," kata Jokowi.
Laki-laki dengan tinggi badan 175 sentimeter dan berat 53 kilo ini baru semangat belajar setelah motivasinya dilecut sang ibu. Ibunya menasihati, agar Jokowi rajin belajar jika ingin meraih cita-cita melanjut ke perguruan tinggi negeri favorit. "Setelah itu, saya belajar dengan baik, dengan motivasi agar saya bisa dapat di UGM," katanya.
Secara umum, menurut Sujiatmi, anaknya termasuk tekun belajar. Bahkan dia tidak perlu memaksanya untuk belajar. Dengan niat dan kemauannya sendiri, Jokowi rajin mempelajari buku-buku sekolah serta mengerjakan tugas dengan tepat waktu. Jokowi adalah anak penurut yang tidak perlu dijewer, pasti dia belajar sendiri. Dia juga termasuk anak yang rajin salat dan lancar mengaji.
Jokowi wajar kecewa dan malu masuk ke SMA Negeri 6. Sekolah itu berdiri tahun 1976 dengan nama Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP) Nomor 40 Surakarta. Namun di masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat Daoed Joesoef, kebijakan dan kurikulum diubah, nama SMPP diubah menjadi SMA. Awalnya, masih satu dengan SMA Negeri 5, yang letaknya memang berdekatan.
Saat Joko remaja masuk SMA 6 tahun 1978, baru saja berubah status. "Jokowi adalah angkatan pertama dan lulusan pertama tahun 1980," ujar Slamet Suripto guru fisika yang selama tiga tahun mengajari Jokowi.
Menurut Slamet Suripto, saat itu, SMA 6 adalah SMA negeri terakhir di Solo. SMA 1 sampai SMA 6. Muridnya pun banyak. "Dan muridnya dianggap bodoh. Jadi guru betul-betul ngajar murid bodoh. Tidak seperti SMA 1 yang dikenal sebagai sekolah murid pintar, favorit. SMA 1 sekolah favorit, sedangkan SMA 6 sekolah paling jelek. Dan namanya SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan), jadi orang sering salah sangka, dikira SMP," ujar Slamet.
SMPP semula disiapkan untuk mendidik murid yang mau siap kerja, semacam sekolah menengah kejuruan (SMK) saat ini. Dengan sasaran itu, SMPP dibangun dengan banyak labortorium, misalnya laboratorium kayu, besi, mesin, listrik, IPS (mengetik), dan laboratorium pembukuan.
Akan tetapi, begitu Mendikbud Muhammad Mashuri digantikan Daud Joesof, saat itu semua SMPP disamaratakan menjadi SMA. Lalu nama sekolah SMPP ditulis dalam kurung SMA 6, karena banyak yang mengira SMP.
Selain mengingat sebagai sosok ulet dan rajin belajar, sosok Jokowi semakin membekas di ingatan Slamet karena muridnya itu lulus sebagai juara umum. Slamet Suripto juga mengaku bangga karena dapat melihat sosok pemimpin yang berintegritas, kaya namun tetap jujur dan sederhana, pada sosok Jokowi. Dia bangga karena ketika mengajar, termasuk di kelas Jokowi pada tahun 1978-1980, dia dan guru lainnya, selalu menyelipkan pesan moral.
Setiap guru mengajarkan filsafat kehidupan, mengajarkan kepada setiap anak didiknya untuk tetap berada pada jalur kehidupan yang mulia. Ya, walaupun dia guru Fisika, dia tetap berusaha untuk menyelipkan pendidikan tersebut sebagai bekal berperilaku dan tingkah pola anak didiknya setelah keluar ke masyarakat.
"Dia sudah menjalankan apa yang ada di hati saya. Misalnya menjadi pemimpin jujur, dia sudah jujur. Pemimpin yang memasyarakat, dia sudah memasyarakat. Jadi apa yang saya ajarkan dulu, sudah dia jalankan. Beda misalnya, korupsi. Tidak ada guru ngajari muridnya korupsi," kata pensiunan yang memasuki masa purnabakti pada tahun 2009 ini.
Murdi Suyitno, pensiunan guru Geografi SMA 6 yang pernah mengajar Jokowi, juga membanggakan berkas muridnya itu. "Lulusan dari SMA 6 banyak yang jadi pejabat, selain Jokowi, ada juga yang jadi camat Banjarsari, dan lain-lain," kata Murdi yang menjadi guru sejak 17 Agustus 1959, dan pensiun dari SMA 6 pada tahun 2000. (*)




Andri Sobari (Emon) Sang Predator Seks Sukabumi

Andri Sobari alias Emon
Pihak kepolisian masih menyelidiki kasus pelecehan seksual yang dilakukan Andri Sobari (AS) alias Emon terhadap 51 anak di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Martinus Sitompul, mengatakan, saat ini pihaknya mulai merambah pemeriksaan terkait dugaan keterlibatan orang lain yang membantu Emon.

“Kami selidiki keterkaitan, apakah ada orang yang membantu, mencarikan korban, merekomendasikan tempat, dan lain-lain,” jelasnya kepada wartawan, Minggu (4/5/2014).

Namun, lanjut Martin, sejauh ini Emon ‎mengaku mencari korban dan menentukan tempat 'eksekusi' seorang diri. Lokasi pelecehan seksual yakni di Pemandian Air Panas Lio Santa. Hasil pemeriksaan sementara, Emon melakukan pelecehan lantaran pernah mengalami hal serupa sewaktu masih duduk di bangku sekolah. Hal itu membuat Emon melampiaskannya dengan melakukan pengulangan terhadap apa yang ia pernah rasakan.

“Ia itu mengakunya normal suka sama wanita, tapi kalau melakukannya dengan wanita dia takut hamil. Daripada hamil dan harus tanggung jawab, lebih baik dia bayar anak-anak Rp25 ribu-Rp50 ribu,” bebernya.
Seperti diketahui, belum lama ini PPA Satreskrim Polresta Sukabumi menangkap Emon atas laporan seorang korban. Dari hasil penyelidikan, korban terus bertambah dan hingga kini mencapai 51 orang.

Memiliki kepribadian aneh
Tersangka pelaku sodomi terhadap puluhan anak, Andri Sobari alias Emon, 24, memiliki berbagai kepribadian aneh. Ibunda Emon, Solihat, menduga hal ini disebabkan karena Emon pernah jatuh dan kepalanya terbentur saat masih berusia satu tahun.
Menurut Solihat, akibat kejadian itu, Emon tidak bersikap selayaknya orang seumurannya. Padahal saat itu, Emon katanya, sudah memiliki kemampuan di atas rata-rata bayi, yaitu sudah bisa berbicara. “Jadi si Aa’ teh sewaktu umur 1 tahun tos bisa ngomong, tos bisa jalan. Di ais ku teteh na, [Jadi Andri sewaktu umur 1 tahun sudah bisa bicara dan jalan. Digendong sama kakak saya] enggak sengaja lagi becanda kelempar, jatuh, kepala duluan yang kena,” kata Solihat ketika ditemui di rumahnya, di Kampung Liosanta, Baros, Kota Sukabumi, Sabtu (4/5/2014), seperti dilansir Detik.
Solihat mengatakan, anaknya sempat tidak sadarkan diri dari pukul 16.00 WIB hingga 01.00 WIB. Saat itu kondisi badan Emon sangat panas. “Sempet dibawa ke praktik, sempat ke orang pinter, terus sadar jam 1 malam. Setelah itu jadi enggak bisa jalan, nggak banyak bercanda,” kata Solihat.
Solihat juga mengatakan, anak-anak kecil di sekitar rumahnya sering mengajak Emon bermain. Namun, Solihat tidak menyangka jika akhirnya Emon berbuat keji dengan mencabuli anak-anak kecil. “Saya mah pasrah aja,” pungkas Solihat dengan mata berkaca-kaca.
Dari pengakuan Solihat pula Emon diketahui sering bermain dan menonton film-film kartun. Solihat menceritakan kebiasaan anaknya yang sehari-hari seperti anak kecil. Dia pun sering memarahi Emon tersebut.
“Si Aa’ mah tiasa nonton pilm Naruto, Kian Santang, seserian sorangan keur nonton teh [Andri biasa nonton film Naruto, Kian Santang, ketawa-ketawa sendiri kalau lagi nonton],” kata Solihat ketika ditemui di rumahnya, di Kp Liosanta, Baros, Kota Sukabumi, Sabtu (4/5/2014). “Diomelan ku saya, ‘Naon tah seserian sorangan nonton teh’. Jiga euweh pilm nu lain, ‘Naon pilm budak leutik ditonton’ [Saya marahin 'Kenapa ketawa-ketawa sendiri nonton filmnya'. Kayak nggak ada film lain aja, 'Ngapain film anak kecil ditonton'],” sambungnya.
Seperti diberitakan Emon predator seks dari Sukabumi ditangkap polisi, Jumat (2/5/2014) lalu. Korban dari aksi Emon mencapai 51 orang yang terdiri atas bocah-bocah yang disodomi Emon. Emon predator seks Sukabumi diketahui bekerja di salah satu perusahaan swasta. Dia selama ini berdomisili di Kota Sukabumi.

Koalisi untuk Kepentingan Siapa?


Oleh: Andi Irawan (Dosen Universitas Bengkulu) 


Koalisi. Tema ini merupakan isu sentral dalam banyak pembicaraan publik selepas pemilu legislatif 9 April yang lalu. Berkaitan dengan pembicaraan tentang koalisi ini, menurut saya, hal ini tidak boleh dibiarkan hanya menjadi kepentingan elite. Koalisi harus ditempatkan pada wacana publik dan untuk kepentingan publik.
Artinya, dalam konteks ini, publik harus mencermati dan menilai bagaimana para elite itu bermanuver dalam pembentukan koalisi politik mereka, yang dilakukan untuk menentukan pasangan kandidat pemimpin tertinggi eksekutif di negara ini. Kalangan masyarakat madani perlu mengawal agar tujuan pembentukan koalisi tetap dalam lingkup public interest, bukan elite interest. Saya kira penting bagi media cetak ataupun elektronik, para aktivis media sosial, intelektual, mahasiswa, dan para pengamat untuk bersikap kritis terhadap pembentukan koalisi dari sejumlah kekuatan politik. Diduga kuat mereka akan tampil dalam pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Jadi, yang perlu dipertanyakan, apakah hal itu berorientasi publik atau tidak?
Isu utama koalisi tidak boleh dibiarkan berkisar tentang siapa yang harus dipasangkan dengan calon presiden tertentu. Tidak pula boleh dibiarkan hal ini hanya berbicara tentang partai apa bergabung kepada partai apa, lalu, berapa poros yang akan hadir dalam konstestasi calon wakil presiden dan calon presiden 9 Juli nanti. Sebab, ketika hanya berbicara masalah itu, tidak akan ada titik temunya dengan kepentingan publik.
Kita harus mengupayakan bahwa koalisi yang terbentuk akan memberi ekspektasi positif tentang Indonesia selama 2014-2019. Sebagai contoh, apa kontribusi koalisi yang terbentuk terhadap masalah kesejahteraan rakyat, khususnya dalam aspek kesenjangan ekonomi yang semakin meningkat dan penurunan angka kemiskinan yang subtansial? Perlu disadari, garis kemiskinan yang kita pakai sebagai dasar perhitungan angka kemiskinan tidak mencerminkan kesepakatan pandangan dunia tentang kemiskinan yang sesungguhnya.
Garis kemiskinan yang disepakati oleh dunia internasional adalah penghasilan US$ 2 per hari per kapita, sedangkan kita menggunakan angka sekitar US$ 1 per hari per kapita. Parameter internasional harusnya berani ditetapkan sebagai garis kemiskinan nasional guna menentukan angka kemiskinan. Dengan demikian, penurunan angka kemiskinan yang terjadi benar-benar keberhasilan subtansial yang diakui dunia, bukan keberhasilan yang bersifat pencitraan. Pemerintah selama ini bias pada pertumbuhan ekonomi dan abai terhadap masalah keadilan ekonomi.
Kita memang telah termasuk dalam kelompok negara dengan pendapatan menengah-atas dengan pendapatan per kapita sebesar US$ 3.542,9. Tapi hal itu menjadi tidak bermakna ketika kita memahami bahwa yang menikmati kue pembangunan Indonesia itu sebenarnya tidak proporsional. Ada 10 persen penduduk, jika merujuk pada Indikator Pembangunan Dunia dari Bank Dunia pada 2013, yang memiliki 65,4 persen dari aset total nasional. Dalam hal ini, Indonesia berada di peringkat 17 negara yang kesenjangan ekonominya paling tinggi dari 150 negara yang disurvei.
Tidak mengherankan jika kemudian angka indeks Gini juga semakin melebar dari 0,329 pada 2002 menjadi 0,413 pada 2011, apalagi kalau dibandingkan pada era Orde Baru yang sebesar 0,3. Hal itu menunjukkan kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan miskin di era Reformasi ini semakin melebar.
Ketimpangan (kesenjangan) ekonomi, ditambah dengan semakin sulitnya akses rakyat miskin terhadap pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan, adalah bahaya laten yang bukan saja bisa menimbulkan goncangan sosial. Seperti yang dikemukakan Stiglitz, dalam bukunya, The Price of Inequality (2012), hal ini menjadi sesuatu yang bisa menghancurkan demokrasi itu sendiri. Pemerintah di masa mendatang harus berani mengambil sikap politik yang impelementatif dalam mengatasi masalah kesenjangan ekonomi yang semakin melebar dan menurunkan angka kemiskinan yang subtansial.
Untuk itu, DPR dan pemerintah periode 2014–2019 (hasil koalisi yang terbentuk) harus berani menjadikan angka penurunan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi menjadi paremeter penting pembangunan, yakni dengan cara memasukkan parameter-parameter tersebut menjadi asumsi dasar dan target penting dalam APBN. Belum ada satu pemerintah pun pada era Reformasi ini yang berani menjadikan penurunan kesenjangan ekonomi dan penurunan angka kemiskinan signifikan sebagai kemauan politik (political will) dalam APBN yang mereka susun.
Masyarakat madani perlu mengedukasi para pemilih untuk memaksa para politikus yang bermanuver tentang koalisi calon presiden agar tidak sekadar berbicara tentang siapa mendukung siapa dan mendapat apa, tapi bagaimana koalisi itu memberi ekspektasi tentang Indonesia yang lebih adil, makmur, dan sejahtera. Bahkan, sebaliknya, kekuatan-kekuatan politik yang hanya mempertontonkan koalisi yang sarat dengan kepentingan elite layak dihukum. Caranya adalah dengan tidak memilih kekuatan koalisi tersebut dalam pemilihan presiden 9 Juli nanti.

Syafii Maarif Usulkan Pemerintahan Zaken Kabinet

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif (kiri) menyambut kedatangan calon Presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo di kediamannya di Sleman, (3/5). ANTARA/Regina Safri
TEMPO.CO, Yogyakarta - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengaku sudah bertemu dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sebelum bertemu calon presiden PDI Perjuangan, Joko Widodo alias Jokowi, di kediamannya di Perumahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

Dia mengusulkan bentuk pemerintahan nantinya adalah zaken kabinet. Yaitu kabinet yang diisi kalangan profesional atau kabinet yang sangat ahli di bidangnya. Bukan berdasarkan pada representatif dari partai politik.

“Apa pun yang masuk dalam kabinet Anda (Megawati dan Jokowi) harus orang-orang profesional yang ahli di bidangnya,” kata Syafii saat menunggu kedatangan Jokowi di rumahnya, Sabtu, 3 Mei 2014.

Dia tak mempersoalkan menteri berasal dari partai politik. Namun saat sudah menjadi menteri harus menanggalkan atribut kepartaiannya, termasuk tak masuk lagi dalam struktur partai. Lantaran yang harus diutamakan adalah mengurus bangsa dan negara. “Menteri ngurus negara, bukan partai lagi. Dia harus menjadi negarawan,” kata Syafii menegaskan.

Berbeda dengan kondisi kabinet pemerintahan saat ini yang merupakan titipan partai-partai politik. Kondisi tersebut rawan menjadi sarang korupsi. Akibatnya banyak menteri sekaligus pengurus partai terseret kasus korupsi. Syafii enggan menyebut namanya. “Kalau negara selamat, partai selamat. Kalau partai selamat, negara tak selamat,” kata Syafii.

Dia mencontohkan kabinet dalam pemerintahan di Amerika Serikat yang dipimpin presiden dari Partai Demokrat. Pemerintahan tersebut menerapkan zaken kabinet. "Yang baik dari Amerika itu tirulah. Yang jelek seperti imperialism, ya tinggalkan,” kata Syafii.

PITO AGUSTIN RUDIANA