[Perang Antar Panglima] Tragedi 1998: Gerakan “Pasukan Liar”, Oleh Prabowo atau Wiranto?

tragedi 14-Mei-1998-header

[Perang Panglima] Konspirasi Kudeta Militer 1998: Ada Pergerakan “Pasukan Liar” di Kediaman Presiden Habibie, Siapa Yang Mengerahkan? Prabowo Atau Wiranto?

Sejarah kelabu negeri ini pernah terjadi  di tahun 1998 silam. Ketika, Soeharto, presiden kala itu terpilih untuk kesekian kalinya. Masyarakat yang selama ini diam, menyimpan bara. Terjadilah amuk massa masif, terutama di wilayah Jawa.
Sebuah tuntutan agar Soeharto lengser didengungkan. Hampir setiap hari, kala itu, demonstrasi terus digelar. Tuntutannya satu: Soeharto turun dari tampuk kekuasaan.
Dan ujungnya, 13-14 Mei 1998. Demontrasi besar-besaran di gelar di Jakarta. Hari itu Jakarta mencekam. Dan kerusuhan pun meletus.
Prabowo Subianto banner
Pada acara Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) 18 Desember 2012 lalu, Prabowo menyampaikan pernyataan yang cukup mengagetkan:
“Saya Letnan Jendral mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat yang hampir Kudeta, Menyesal juga saya nggak jadi Kudeta”


Pernyataan ini mungkin disampaikan tanpa ada niat sungguh-sungguh dari Prabowo, tapi pernyataan itu mengingatkan kita akan luka sejarah yang pernah terjadi di negeri ini.
Luka sejarah itu terjadi ketika peristiwa peralihan kekuasaan dari rezim Soeharto yang digulingkan setelah tiraninya menguasai negeri ini selama 32 tahun lamanya. Kemudian, pucuk kekuasaan pun beralih kepada wakil presiden BJ.
Habibie yang kemudian menggantikan Suharto, menjadi Presiden Republik Indonesia. Namun pada kenyataannya dulu, posisi jabatan itu “menggiurkan” petinggi lainnya dan berusaha “mengambil-alih” kekuasaannya yang hingga saat ini masih penuh tanda tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Dua Praduga Tuduhan kepada Pangkostrad Letjen Prabowo
Dalam sejarah yang tercatat di pikiran masyarakat Indonesia, Prabowo terkena dua tuduhan serius di era peralihan kepemimpinan di tahun 1998.
Tuduhan yang pertama, Prabowo disangka menjadi dalang kerusuhan yang terjadi di bulan mei 1998 yang banyak merengut nyawa dan terjadinya penjarahan, Kerusuhan yang sangat terindikasi melibatkan konflik yang terjadi di internal tubuh ABRI.
Bahkan Presiden Habibie membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mencari keterlibatan Prabowo dalam kerusuhan 1998. Hingga sampai saat ini hasil dari temuan TGPF tidak pernah disampaikan ke masyarakat luas secara jelas, apa dan seberapa besar keterlibatan Prabowo pada kerusuhan yang terjadi di tahun 1998 itu.
Tuduhan yang kedua, Prabowo dicurigai akan mengambil alih paksa kekuasaan pasca tergulingnya Presiden Soeharto dari kekuasaan yang digantikan oleh Presiden Habibie.
Prabowo Subianto

Pangkostrad Letjen. Prabowo Subianto
Kecurigaan itu berawal dari laporan Panglima ABRI yang saat itu dijabat oleh Jendral Wiranto melapor ke Presiden Habibie bahwa ada konsentrasi pergerakan pasukan Kostrad dibawah komando Prabowo di sekitar kediaman Habibie, Yang kemudian disimpulkan tindakan Prabowo itu upaya untuk melakukan Kudeta.
Pergerakan pasukan Prabowo ini sangat dicemaskan oleh Presiden Habibie, karena Prabowo sebagai Panglima Kostrad membawahi pasukan sebanyak 11.000 personel tentara yang oleh Presiden Habibie disikapi dengan memerintahkan Wiranto untuk memberhentikan Prabowo sebagai Pangkostrad dan diganti dengan Pangkostrad yang baru agar bisa menarik mundur pasukan kostrad yang sudah memasuki kota Jakarta pada waktu itu.
Keputusan pemberhentian oleh Habibie inilah yang menyulut kemarahan Prabowo, ia menapik tuduhan akan melakukan Kudeta terhadap Kepemimpinan Presiden Habibie.
Sebaliknya, Prabowo justru beralasan bahwa pengerahan pasukan Kostrad di sekitar rumah Habibie adalah atas perintah Wiranto sebagai Panglima ABRI untuk mengamankan Presiden Habibie.
Kronologi “Gerakan Pasukan Liar” di Kediaman Presiden Habibie tahun 1998
Pergantian pucuk pimpinan negara dari Presiden Soeharto kepada Habibie berujung pada pencopotan Letjen Prabowo Subianto dari posisi Pangkostrad.
Saat itu 22 Mei 1998, Habibie yang baru satu hari dilantik menjadi Presiden RI memiliki segudang masalah untuk diselesaikan, utamanya adalah ekonomi dan keamanan. Kondisi Ibu Kota Jakarta saat itu mencekam dan tidak menentu. Bahkan, pengerahan pasukan militer saat itu seakan kurang terkoordinasi.
http://indocropcircles.files.wordpress.com/2013/10/a4ddc-detik-detikyangmenentukan.jpg?w=243&h=337

Buku yang ikut melengkapi khazanah sejarah politik kontemporer Indonesia. B.J. Habibie merupakan salah seorang pelaku utama sejarah pada masa lahirnya reformasi di Indonesia. Fakta yang dihadirkan dalam buku ini otentik, berdasarkan catatan dan pengalaman pribadi pelaku sejarah yang belum pernah diungkapkan. Fakta yang ada, tidak diberi “hiasan” dan “warna”, tetapi disampaikan seperti apa adanya. (lihat buku online atau download versi PDF format ZIP atau download PDF)

Saat baru tiba di Istana Negara, Presiden Habibie mendapat laporan dari Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Wiranto soal adanya pergerakan pasukan Kostrad dari luar daerah menuju Jakarta.
Bahkan, Jenderal Wiranto dalam laporannya saat itu menyatakan ada konsentrasi pasukan tak dikenal di kediaman Presiden Habibie di Patra Kuningan, Jakarta dan di Istana Merdeka.
“Dari laporan tersebut, saya berkesimpulan bahwa Pangkostrad (Letjen Prabowo Subianto) bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab (Jenderal Wiranto),” kata Habibie dalam buku ‘Detik-detik Yang Menentukan’ karya Bacharuddin Jusuf Habibie, terbitan THC Mandiri (lihat buku online atau download versi PDF format ZIP atau download PDF) setebal 574 halaman itu.
Habibie sontak terkejut mendengar laporan tersebut. Dalam benaknya muncul berbagai pertanyaan dan praduga.
Tak butuh waktu lama, Habibie saat itu juga langsung memerintahkan Jenderal Wiranto untuk mencopot Letjen Prabowo dari posisi Pangkostrad (Panglima Komando Strategi Angkatan Darat), sebelum matahari tenggelam.
Jenderal Wiranto lantas melaporkan juga kepada Presiden Habibie bahwa sang istri, Ainun Habibie, beserta anak dan cucu telah diamankan prajurit ABRI menuju Wisma Negara.
Hal itu dilakukan untuk menjamin keamanan keluarga presiden karena banyaknya pasukan tak dikenal yang berkeliaran kala itu.
“Saya bertanya kepada diri saya, ‘Mengapa keluarga saya harus dikumpulkan di satu tempat? Apakah tidak lebih aman jikalau anak-anak dan cucu-cucu saya tinggal di tempatnya masing-masing dan dilindungi oleh Pasukan Keamanan Presiden? Mengapa harus dikumpulkan di satu tempat,” kata Habibie dalam hati.
Habibie dam Prabowo

Selang berapa jam kemudian, Letjen Prabowo datang menemui Presiden Habibie di Istana Negara. Prabowo menanyakan soal pencopotannya. Dalam pertemuan itu, Presiden Habibie menanyakan soal pergerakan pasukan dari luar Jakarta menuju Istana Merdeka dan Kediamannya.
“Saya bermaksud untuk mengamankan presiden,” jawab Prabowo.
Namun jawaban Prabowo itu dibantah Presiden Habibie. Menurutnya, keamanan presiden menjadi tanggung jawab Paspampres, bukan Kostrad. Namun Prabowo berkata :
“Atas nama ayah saya, Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto , saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,” kata Prabowo.
Namun Habibie menjawab dengan nada tegas:
“Tidak! Sebelum matahari terbenam, Pangkostrad harus sudah diganti dan kepada penggantinya diperintahkan agar semua pasukan di bawah komando Pangkostrad harus segera kembali ke basis kesatuan masing-masing, dan saya bersedia mengangkat anda menjadi duta besar di mana saja!”,” kata Habibie.
“Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!” jawab Prabowo.
“Ini tidak mungkin, Prabowo,” tegas Habibie .
Ketika perdebatan masih berlangsung seru, Habibie kemudian menuturkan bahwa Letjen Sintong Panjaitan masuk sembari menyatakan kepada Prabowo bahwa waktu pertemuan sudah habis.
“Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak dan harap segera meninggalkan ruangan,” kata Letjen Sintong Panjaitan yang saat itu menjabat sebagai penasihat militer presiden.
http://readingwalk.com/sites/readingwalk.com/files/styles/book_medium/public/img/book/habibie_0.jpg
Habibie Prabowo Dan Wiranto Bersaksi, yang ditulis oleh Asvi Warman Adam


Setelah itu Prabowo menempati posisi baru sebagai Komandan Sekolah Staf Komando (Dansesko) ABRI menggantikan Letjen Arie J Kumaat.
Prabowo mengisahkan serah terima jabatan dilakukan secara sederhana dan tertutup.
“Belum pernah ada perwira tinggi dipermalukan institusinya, seperti yang saya alami,” kata Prabowo.
Selanjutnya, Prabowo harus menjalani sidang Dewan Kehormatan Perwira. Prabowo disinyalir terlibat dalam penculikan aktivis saat masih menjabat sebagai Danjen Kopassus.
15 Perwira tinggi bintang tiga dan empat mengusulkan ke Pangab agar Prabowo dipecat.
“Saya paham, dewan ini sudah bersidang dengan susah payah selama sebulan dan orang-orangnya berpengalaman. Maka, saya (acc) setuju,” kata Wiranto .
Dalam judul buku : Habibie, Prabowo, dan Wiranto Bersaksi, (download versi DOC atau PDF) yang ditulis oleh Asvi Warman Adam dan Tim Kick Andy menyatakan:
“Buku-buku yang ditulis Habibie, Wiranto, Fadli Zon dan Kivlan Zen (termasuk satu bagian dari buku Sumitro Djojohadikusumo yang membela putranya) boleh dikatakan sebagai buku putih yang mencoba menjelaskan posisi tokoh yang bersangkutan, membela diri, dan menjelaskan kehebatan masing-masing. Namun di sisi lain, buku itu juga mencari kambing hitam pada orang lain.” (DR. Asvi Warman Adam, sejarawan dan ahli peneliti utama LIPI)
Asvi Warman Adam menyebutkan bahwa telah terjadi perdebatan Pangkostrad Prabowo dengan Presiden Habibie dikala itu :
“Dia mengatakan kepada saya waktu itu – tepatnya kami berdebat, “Anda ini presiden apa? Anda presiden naif!” Saya jawab, “Masa bodo. Yang penting saya presidennya. Saya yang menentukan. Titik!.” (B.J. Habibie, mantan presiden RI, tentang Prabowo)
Maka, Presiden Habibie pun menolak permintaan Pangkostrad Letjen Prabowo untuk menunda pencopotannya. Di dalam bukunya pula, mantan presiden Habibie yang dikala itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia menyatakan alasan pencopotan Prabowo.
Semua itu Habibie lakukan dikarenakan adanya pengerahan pasukan dari daerah menuju ke Jakarta yang dilakukan Letjen Prabowo tanpa koordinasi dengan Menhankam / Pangab Jenderal Wiranto.
Hal itu sangat tidak baik saat itu, karena disaat kondisi Republik yang masih genting, perbuatan Prabowo itu dapat mempengaruhi komandan lain untuk berbuat sendiri-sendiri, tanpa koordinasi.
“Bukankah kemarin pada Rabu pagi tanggal 20 Mei 1998 saya telah sampaikan kepada Pangab bahwa saya tidak akan menerima kepala staf angkatan termasuk Pangkostrad sendiri-sendiri tanpa sepengetahuan atau permohonan Pangab? Ini berarti gerakan pasukan dari Kostrad tanpa sepengetahuan Pangab, tidak boleh saya tolerir,” kata Habibie .
Namun menurut Prabowo lain lagi, ia menyatakan:
“Dalam pertemuan hari Jumat, 22 Mei 1998, beliau bicaranya seperti itu, bahwa Pak Harto yang minta. Tapi waktu di Hamburg, beliau mengatakan negara superpower yang meminta.” (Prabowo Subianto, tentang keputusan Habibie mencopotnya dari jabatan Pangkostrad)
Sedangkan Wiranto lain lagi, ia menyatakan:
“Yang mampu atau yang mungkin melakukan kudeta hanyalah pangab. Saya sendiri.” (Jenderal (Purn) Wiranto, mantan Panglima TNI)
Sementara itu, berdasarkan kesaksian penasihat militer Presiden Habibie, Letjen (Purn) Sintong Panjaitan, situasi di jalan depan rumah Habibie di Patra Kuningan saat itu sangat sumpek karena banyaknya prajurit ABRI. Anggota Kopassus dan Paspampres kala itu berjubel di jalan yang lebarnya hanya sekitar 6 m.
http://rakbukuonline.files.wordpress.com/2011/01/sintong.jpg?w=251&h=369
Buku “Perjalanan Seorang Prajurit PARA KOMANDO” oleh Letjen Sintong Panjaitan, terbitan Kompas. (lihat buku online atau download PDF)


Saat itu Paspampres meminta agar personel Kopassus mundur dari area kediaman Presiden Habibie. Namun, personel korps baret merah itu menolak.
Mereka hanya mau pindah jika mendapat perintah langsung dari komandannya yang saat itu adalah Danjen Kopassus Mayjen Muchdi PR. Saat itu mereka hanya menuruti perintah agar mengamankan presiden.
Paspampres yang kala itu di bawah komando Mayjen TNI Endriartono Sutarto pun gusar. Pasalnya, saat itu mereka hanya dibekali peluru hampa. Sementara, personel Kopassus saat itu dilengkapi peluru tajam.
Mayjen Endriartono kemudian menghubungi Letjen Sintong Panjaitan meminta agar segera dikirimkan peluru tajam.
Letjen Sintong kemudian menghubungi bekas anak buahnya yang saat itu menjabat sebagai Wadanjen Kopassus, Brigjen Idris Gasing. Letjen Sintong meminta agar Brigjen Idris segera menarik pasukannya dari kediaman Presiden Habibie.
“Gasing coba perbaiki dulu posisi pasukanmu. Pasukan yang di sini tarik ke sana dan yang di sini tarik ke situ. Kalau perlu adakan koordinasi dengan Kodam Jaya agar semua dapat berjalan lancar,” kata Letjen Sintong Panjaitan dalam buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit PARA KOMANDO’ (lihat buku online atau download PDF) terbitan Kompas.
Brigjen Gasing lantas bertanya situasi saat itu. “Komandanmu (Mayjen Muchdi PR) sedang sibuk menghadapi penggantian jabatan. Tarik pasukanmu malam ini juga. Kalau terjadi apa-apa, nanti kau yang disalahkan,” jawab Letjen Sintong.
Brigjen Gasing lantas melaksanakan perintah Letjen Sintong. Dia langsung berkoordinasi dengan Panglima Kodam Jaya, Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin. Akhirnya, sebagian personel Kopassus itu ditarik kembali ke Serang, Jawa Barat dan sebagian lagi ke Kartosuro, Jawa Tengah.

Menurut Jenderal kepercayaan Prabowo soal Kerusuhan dan Isyu Rencana Kudeta 1998
Walau sejumlah pihak menuding Letnan Jenderal (Letjen) Prabowo Subianto sebagai otak kekacauan di Jakarta. Tetapi ada juga yang menilai kerusuhan tersebut direncanakan oleh Jenderal Wiranto. Hal ini diceritakan oleh Mayor Jenderal (Mayjen) Kivlan Zen dalam bukunya bertajuk ‘Konflik dan Integrasi TNI-AD’ (download versi PDF).
http://www.amartapura.com/uploadimg/f_k/konflikdanintegrasitni-ad_28795.jpg
Buku ‘Konflik dan Integrasi TNI-AD’ oleh Mayor Jenderal (Mayjen) Kivlan Zen

Kivlan menilai seharusnya Jenderal Wiranto tak perlu meninggalkan Jakarta. Terlebih kepergiannya hanya untuk menjadi Inspektur Upacara dalam rangka serah terima tanggung jawab Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di Malang pada hari Kamis tanggal 14 Mei 1998. Padahal saat itu Jakarta sudah genting. Pembakaran dan kerusuhan terjadi di mana-mana.
“Serah terima tanggung jawab PPRC ABRI dari Divisi I Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) kepada Divisi II Kostrad walaupun Pangkostrad (Panglima Kostrad) Letjen Prabowo Subianto telah menyarankan agar tidak usah berangkat ke Malang,” tulis Kivlan pada halaman 85 di buku terbitan Institute for Policy Studies tahun 2004 itu.
Prabowo menilai hal ini tidak penting karena Kivlan telah menyiapkan perpindahan itu semenjak Maret tahun 1998. Kala itu Kivlan masih menjabat Panglima Divisi II Kostrad di Malang.
Selain itu, menurut Kivlan, kekeliruan yang dilakukan oleh Wiranto adalah tidak memberikan izin Mabes ABRI untuk meminjamkan pesawat Hercules untuk membawa pasukan Kostrad dari Jawa Timur dan Makassar ke Jakarta.
“Karena Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin sebagai Pangdam Jaya kekurangan pasukan dan meminta ke Kostrad, maka Kostrad menyiapkan pasukan tersebut,” tulis Kivlan.
Karena tidak mendapatkan ijin dari Mabes ABRI, maka dengan menggunakan biaya pribadi Prabowo menyewa pesawat milik Mandala di Makassar dan pesawat milik Garuda di Surabaya. Hal ini dilakukan karena keadaan mendesak.
Pasukan inilah yang dinilai Habibie sebagai “pasukan liar” dan bisa membahayakan. Sejumlah kalangan bahkan menuding Prabowo hendak melakukan kudeta.
tragedi 14-Mei-1998-02
Pengerahan alat berat seperti panser milik PHH berikut pasukan di jalan-jalan utama di Jakarta saat Tragedi Trisakti 1998 (DR/Rully Kesuma)


Kivlan mencatat setidaknya ada dua kekeliruan Wiranto strategis militer selama menjadi Jenderal. Pertama adalah meninggalkan tempat dalam keadaan gawat dan kedua, tidak menggunakan pasukan cadangan di saat genting.
Menilai tidak bertanggungjawabnya Wiranto, maka beberapa pihak memutuskan untuk bertemu dengan Prabowo di Markas Kostrad pada malam harinya.
Setiawan Djodi, Adnan Buyung Nasution, Bambang Widjoyanto, Willibrordus Surendra Broto Rendra yang kerap disapa WS Rendra, Fahmi Idris, Maher Algadri, Hashim Djojohadikusumo, Amran Nasution, Din Syamsuddin , Fadli Zon , Amidhan, Iqbal Assegraf, Hajriyanto Thohari, Kolonel Adityawarman dan Kivlan sendiri.
Kedatangan mereka adalah meminta Prabowo untuk mengambil alih keamanan, seperti yang dilakukan oleh mertuanya, Soeharto pada tahun 1965 yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad.
Namun permintaan itu tidak langsung di-iya-kan oleh Prabowo. Sebabnya, dia menilai situasi tahun 1965 dan 1998 sangat berbeda.
“Masih ada Panglima ABRI Jenderal Wiranto , KSAD Jenderal Subagyo HS, Wakil KSAD Letjen Sugiono. Panglima Kostrad berada pada level ke-empat,” terang Kivlan.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/22/Jakarta_riot_14_May_1998.jpg
In the aftermath of the shooting, riots broke out throughout Indonesia (wikipedia)
Namun kenyataan berkata berbeda. Karena Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) justru menyimpulkan bahwa pertemuan di Markas Kostrad tersebut sebagai rapat untuk merancang kekacauan di Jakarta. Kivlan menilai TGPF melupakan hal terpenting dalam menyimpulkan pertemuan tersebut.
Berikut merupakan sedikit informasi berita tentang apa yang tengah terjadi pada waktu itu, yang dilansir dari media online Kompas, 16 Mei 1998, mengenai ratusan penjarah yang tewas terpanggang dan kondisi Jakarta saat itu :
“Ratusan penjarah tewas terpanggang dalam peristiwa kerusuhan yang melanda Wilayah DKI Jakarta sepanjang Kamis (14/5). Menurut Kadispen Mabes Polri Brigjen (Pol) Drs Da’i Bachtiar, Jumat, jumlah korban yang tewas di wilayah DKI saja sekitar 200 orang. Jumlah itu belum termasuk 20 korban tewas akibat terjatuh saat berusaha meloloskan diri dari kepungan asap dan api.”
“Sedangkan di Kotamadya Tangerang, jumlah penjarah yang tewas terpanggang sekitar 100 orang. Jasad-jasad para korban sebagian besar dalam keadaan hangus.” (dari Media Online Kompas, 16 Mei 1998).


Perang Panglima

Rivalitas, katakanlah begitu antara Wiranto dengan Prabowo menyiratkan persaingan keduanya untuk memperebutkan simpati Presiden Soeharto ketika itu. Meski kalangan militer membantah hal tersebut, namun beberapa fakta menunjukkan ke arah itu.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/c/c4/Wiranto1.jpg
Wiranto

Ketika Wiranto menjabat Pangab, ada beberapa usulan Prabowo yang dimentahkannya. Misalnya Prabowo ingin Kopassus mempunyai pasukan tank dan penerbang.
Jenderal Wiranto, seperti dalam bukunya “”Bersaksi di Tengah Badai”” tahun 2003 mengatakan jika Kopassus punya tank dan pesawat, pasukan ini akan kehilangan kekhususannya.
Soal tank, biarlah pasukan kavaleri yang memilikinya, sedangkan pesawat, itu urusan Penerbad.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan ABRI waktu itu, bahwa Kopassus di bawah Prabowo benar-benar memiliki sistem persenjataan yang mutakhir. Konon, setiap senjata modern yang dimiliki pasukan elite asing, juga harus dipunyai Kopassus.

Wiranto Tegur Prabowo
Wiranto sendiri tak pernah mengakui adanya rivalitas antara dirinya dengan Prabowo. Misalnya, Wiranto setuju ketika Prabowo yang relatif sangat muda, 46 tahun, sudah berbintang dua, dipromosikan menjadi Pangkostrad dengan pangkat Letjen.
Padahal waktu itu masih banyak rekan seangkatan Prabowo (Akabri ‘74) berpangkat colonel bahkan mungkin Letkol. Perwira yang juga menonjol waktu itu adalah Pangdam Jaya Mayjen Safri’e Sjamsoeddin, keduanya satu angkatan di Akabri Darat.
Apakah langkah saya ini merupakan tindakan orang yang merasa disaingi atau terancam kedudukannya? Kalau demikian halnya, maka saya berangkali termasuk golongan orang yang sangat bodoh, mempromosikan pesaing saya, “kata Wiranto kepada Yuddi Chrisnandi, tokoh muda Partai Golkar, dalam bukunya“ ‘Reformasi TNI Perspektif Baru Hubungan Sipil-Militer di Indonesia”’.
tragedi Trisakti, 12 Mei 1998
Suasana Tragedi Trisakti 1998, Tampak korban tergeletak tak bergerak saat terjadi penyerangan tentara ke Univ. Trisakti yang akhirnya diketahui bernama Rizky Rahmawati Pasaribu.


Menurut catatan, Prabowo dan Sjafri’e adalah perwira yang paling cemerlang saat itu. Keduanya masuk dalam pasukan elite Kopassus, bolak-balik ke Timtim. Sjafri’e sejak perwira pertama berada di Paswalpres (kini Paspampres, Red). Sampai ia menjabat Dan Grup A dengan pangkat kolonel di pasukan tersebut. Karena jabatannya itu, kemanapun Presiden Soeharto pergi, Sjafri’e paling jauh hanya dua-tiga langkah dari Presiden.
Ketika Kolonel Sjafri’e dipromosikan sebagai Danrem Suryakencana Bogor, Kolonel Prabowo menjadi Wakil Komandan Kopassus. Keduanya terus beriringan. Prabowo kemudian dipromosikan menjadi Dan Kopassus, berpangkat Brigjen. Sjafri’e pun ditarik ke Jakarta menjadi Kasdam. Pangkatnya juga naik menjadi Brigjen.
Sementara itu Kopassus di bawah Brigjen Prabowo terus berkembang baik personel maupun peralatannya. Jabatan Dan Kopassus diubah menjadi Danjen Kopassus, bintang di pundak Prabowo bertambah satu menjadi Mayjen. Sementara itu Sjafri’e pun menjadi Pangdam Jaya berpangkat Mayjen.
gedung mpr dpr tragedi 1998 header
Tragedi Trisakti 1998″ yang menewaskan beberapa mahasiswa adalah batas puncak kesabaran rakyat. Setelah mengetahui adanya korban dari kalangan mahasiswa, maka rakyat mulai bergerak ke jalan dan mulai membakar mobil-mobil dan toko-toko, lalu terjadilah “Kerusuhan 1998″. Kemudian mahasiswa mulai menguasai Gedung MPR / DPR Senayan Jakarta dan meminta presiden Suharto untuk mengundurkan diri.
Tidak banyak Danjen Kopassus yang langsung dari jabatan itu langsung menjadi Panglima Kostrad. Barangkali cuma dua perwira, yakni Dan Kopassus Brigjen Kuntara dan Mayjen Prabowo.
Biasanya seorang koman dan Kopassus harus menjadi Pangdam terlebih dulu, setelah dari Danjen, sebelum dipromosikan menjadi Pangkostrad. Tapi Prabowo memang istimewa ketika itu. Dan, seperti dikemukakan di atas Pangab Jenderal Wiranto tidak mengganjalnya.
Kalangan internal militer tak menganggap isu soal rivalitas antara Wiranto dengan Prabowo sebagai sesuatu hal yang menganggu konsolidasi ABRI. Begitupun dengan dugaan adanya pengelompokan perwira yang pro-Wiranto dan yang pro-Prabowo, tidak memiliki argumentasi yang kuat sebagai indikasi adanya pengelompokan dalam tubuh militer.
Sebagai mana lazimnya, jika militer saat itu bertindak pro-Wiranto karena jabatannya sebagai Pangab, sedangkan Prabowo mengendalikan pasukan yang ruang lingkupnya lebih kecil, yaitu Kostrad.
korban selamat kerusuhan-mei-1998
Rizky Rahmawati Pasaribu pada saat kini, ia adalah korban penembakan saat kerusuhan Mei 1998 yang tergeletak tak bergerak diatas aspal. Fotonya yang heboh tentang dirinya pada masa itu sempat menyeber ke seantero dunia. (merdeka.com/arbi sumandoyo)

Ketika penculikan mahasiswa sekitar Maret-April 1998 yang dilakukan oleh oknum Kopassus, nama Pangkostrad Letjen Prabowo terseret demikian halnya dengan Danjen Kopassus Mayjen Muchdi PR. Di dalam kalangan militer sendiri, mungkin banyak yang tidak tahu operasi dan tujuan penculikan tersebut.
Jenderal Wiranto kemudian mengeluarkan telegram No. STR/441/1998 tertanggal 20 Maret 1998 yang menginstruksikan jajaran ABRI yang terlibat penculikan itu untuk diproses dan diinstruksikan agar melepas para aktivis yang diculik.
Internal ABRI memperkirakan penculikan itu diketahui oleh Pak Harto sebagai Presiden, meski sejauh mana kebenaran pekiraan itu sulit dibuktikan. Awal Mei 1998, Pangab Jenderal Wiranto di depan Kassospol Letjen Susilo Bambang Yudhoyono, dan Kepala Bais ABRI Mayjen Zacky Anwar Makarim menegur keras Letjen Prabowo.
Menurut Wiranto, Prabowo mengaku penculikan mahasiswa itu atas inisiatifnya
Menurut putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu, operasi intelijen yang berbuntut penculikan tersebut sengaja tidak dilaporkan ke atasannya, KSAD atau Pangab, karena dia tidak ingin merepotkan dan melibatkan Mabes ABRI.
Sudah tentu jawaban Prabowo ini mengejutkan Wiranto. Memang, jika muncul adanya dugaan rivalitas diantara kedua perwira tinggi itu, Wiranto lulusan AMN ’68 dan Prabowo lulusan Akabri Darat ’74, banyak yang mengatakan hal itu untuk memperebutkan kepercayaan dari Pak Harto.
Pada 16 Mei 1998 di Wisma Yani, Menteng, Jakarta, Jenderal Wiranto didampingi Kassospol Letjen Susilo Bambang Yudhoyono dan Assospol Kassospol Mayjen Mardiyanto menerima Ketua Umum NU Gus Dur.
Pada pertemuan tersebut, Wiranto mengajak NU untuk membantu upaya ABRI memulihkan konsolidasi nasional dan mencari solusi terbaik menghadapi kemelut yang sedang berlangsung waktu itu.
Dalam kesempatan itu Gus Dur menyatakan dukungannya. Kemudian Wiranto menugaskan Mayjen Mardiyanto untuk membuat pernyataan pers, berisi lima butir.
http://img.okeinfo.net/dynamic/content/2010/07/19/337/354190/vZD3rp4doG.jpg?w=400
Jalan Cendana, Jakarta (okeinfo.net)
Salah satu butirnya mengatakan NU sangat setuju keinginan Pak Harto untuk lengser keprabon.
Entah bagaimana, konsep pernyataan pers yang belum diteken Jenderal Wiranto itu sampai ke tangan Letjen Prabowo, kemudian disampaikan ke Pak Harto malam hari.
Wiranto menjelang tengah malam mendapat laporan perbuatan Prabowo tersebut. Menurut Wiranto tindakan Prabowo yang sudah di luar jalur norma keprajuritan itu membuat dirinya merasa diragukan kesetiaannya oleh Pak Harto.
Tanggal 17 Mei seusai subuh, Wiranto datang ke Pak Harto di kediaman Jalan Cendana untuk mengklarifikasi laporan Prabowo tersebut. Dari Pak Harto, Wiranto mengetahui secara lengkap apa yang dilaporkan oleh Prabowo.
Tersirat bahwa Wiranto telah berkhianat terhadap Pak Harto. Wiranto menjadi gundah. Dia menyatakan jika Pak Harto sudah tidak lagi mempercayainya, dirinya siap mundur dari jabatan, sambil meyakinkan bahwa apa yang dilaporkan Prabowo tidak benar adanya. Namun Pak Harto menolak permintaan pengunduran diri Wiranto.
Usai diterima Pak Harto, saat mau keluar, Wiranto berpapasan KSAD Jenderal Subagyo HS, Pangkostrad Letjen Prabowo dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafri’e Sjamsoeddin.
Disitulah Jenderal Wiranto menumpahkan kekesalannya kepada Letjen Prabowo, disaksikan Subagyo dan Sjafri’e.
Kemudian Wiranto menanyakan maksud kedatangan mereka satu persatu. Subagyo mengatakan dirinya dipanggil oleh Pak Harto, Prabowo mengaku datang atas inisiatifnya sendiri, sedangkan Sjafri’e datang karena kebetulan lewat dan mampir. Tapi pagi itu, hanya Subagyo yang diterima resmi oleh Presiden.
http://lifeschool.files.wordpress.com/2011/05/korban-kerusuhan-mei-02-saptono.jpg?w=284&h=199
Korban kerusuhan di Cileduk (foto: Saptono)
Dalam pertemuan itu Pak Harto menyatakan ingin mengeluarkan Inpres tentang pemulihan keamanan dengan membentuk lembaga Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Keselamatan Nasional. Pak Harto bertanya apa KSAD siap menerima tugas itu?
Sebaliknya Subagyo pun balik bertanya, bagaimana dengan posisi Jenderal Wiranto, sebagai Panglima ABRI apakah otomatis diganti olehnya? Jika tidak, Subagyo tidak mau.
Dia menyarankan agar pemegang atau pelaksana Inpres tersebut harus dipegang oleh pimpinan ABRI sehingga tidak menimbulkan dualisme komando dalam tubuh ABRI.
Perasaan Wiranto menjadi tak menentu atas sikap Pak Harto itu. Apakah ini pertanda menurunnya kepercayaan Pak Harto terhadapnya? Hanya Pak Harto yang tahu.
Menurut Wiranto, bagaimana mungkin sebuah komando operasional pemulihan keamanan terpisah dari struktur komando Pangab selaku penanggung jawab keamanan nasional?
Tanggal 18 Mei sore hari, beberapa perwira tinggi menghadap Pak Harto di Cendana, secara terpisah. Hadir Pangkostrad Letjen Prabowo, Pangdam Jaya Mayjen Sjafri’e, KSAD Jenderal Subagyo, dan Pangab Jenderal Wiranto.
Masing-masing melaporkan perkembangan situasi sesuai dengan ruang lingkup tugas dan kewenangannya. Tidak ada pesan khusus Pak Harto kepada mereka.
http://lifeschool.files.wordpress.com/2011/05/korban-kerusuhan-mei-01-anton-bs.jpg?w=275&h=210
Korban kerusuhan diperiksa di RSCM (foto: Anton BS)
Menurut penuturan Mayjen Sjafri’e, ia datang ke Cendana hari itu sekitar pukul 15.00. Juga dipanggil KSAD namun waktunya tidak bersamaan, tempatnya pun beda.
Sjafri’e tidak tahu apa yang dibicarakan Pak Harto dengan KSAD. Dia hanya disuruh menunggu oleh Pak Harto, sementara Pak Harto ke ruang lain untuk berbicara dengan KSAD.
Saat kembali, Pak Harto bertanya kepada Sjafri’e apa yang diketahuinya, Pangdam Jaya itu menjawab cepat dan jelas soal Gus Dur yang menegaskan bahwa NU akan ikut ABRI.
Namun Pak Harto memotongnya, bukan itu yang dimaksud.” Coba kamu tanya ke KSAD,” perintah Pak Harto. Sjafri’e pun menemui Subagyo di ruang lain. Berkumpullah di ruang itu Sjafri’e, Subagyo dan Prabowo.
Kemudian datang Wiranto, dan kepada Pak Harto menyerahkan Inpres No.16/1998, yang memberikan kewenangan kepadanya selaku Panglima Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional. Pada saat menyerahkan, tidak ada pesan Pak Harto untuk melaksanakannya. Wiranto pun memutuskan untuk tidak menggunakan Inpres tersebut guna menghindari pertumpahan darah.
Hal ini juga dibicarakannya dengan Kassospol Letjen Susilo Bambang Yudhoyono di Mabes TNI Merdeka Barat. “Kalau begitu saya ikut jenderal,” kata Yudhoyono sambil menyalami Wiranto.
Kamis 21 Mei 1998, Presiden Suhato mengumumkan pengunduran dirinya. Sejak itulah momen-momen penting terus bergulir. Pak Harto lengser digantikan oleh Wapres BJ Habibie.
Suharto resigns
Suharto resigns – Suharto reads his address of resignation at Merdeka Palace on 21 May 1998. Suharto’s successor, B. J. Habibie, is to his right.
Jumat 22 Mei 1998, Panglima Kostrad Letnan Jenderal Prabowo Subianto bergegas memasuki halaman Istana, namun sebelum masuk dia dicegah oleh Dan Paspampres Mayjen Endriartono Sutarto. “
“Maaf Jenderal, semua perwira harus menanggalkan senjata sebelum bertemu Presiden,”” pinta Endriartono. Prabowo menahan perasaan sambil melepas pistolnya, dia pun menemui Presiden BJ Habibie di ruang tamu Wisma Negara.
Kemudian terjadilah dialog seperti yang diuraikan Habibie dalam bukunya “Detik-detik yang Menentukan”. Buku itu ditanggapi serius oleh Prabowo. Maklum dialah yang paling terserempet dari apa yang ditulis Habibie dalam buku itu. Dia ingin “meluruskan” apa yang sebenarnya terjadi menurut penafsirannya.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/95/May_1998_Trisakti_incident.jpg
Polisi dan mahasiswa di luar Trisakti (wikipedia)
Kemudian, sempat terjadi dialog dalam bahasa Inggis, sebelum akhirnya Prabowo berbicara dengan nada tinggi.
“Ini penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto . Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” tegas Prabowo dikutip dalam buku “Prabowo: Ksatria Pengawal Macan Asia” karya Femi Adi Soempeno dan Firlana Laksitasari.
Habibie menjawab, “Anda tidak dipecat, tapi jabatan anda diganti.”
Prabowo balik bertanya, “Mengapa?” Habibie kemudian menjelaskan bahwa ia menerima laporan dari Pangab bahwa ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Negara.
Terlepas dari “benar” tidak buku itu, memang bisa dirasakan bahwa ketika itu terjadi rivalitas meski sulit dibuktikan, antara Pangab Jenderal Wiranto dengan Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto. Ada yang menyebut persaingan keduanya mencuat sejak 1997, dimana ketika itu Wiranto menjabat kepala staf angkatan darat sedangkan Prabowo sebagai Dan Kopassus.
Jenderal Wiranto tetap berada di posisinya, beberapa kali ia menolak pinangan menjadi calon wakil presiden, sedangkan Letjen Prabowo dimutasikan menjadi Dan Sesko ABRI di Bandung.
Beberapa waktu kemudian Wiranto menyetujui rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira (DKP) untuk memberhentikan Letjen Prabowo dari dinas kemiliteran.
Selesaikah Perang Panglima? Dan Kini Menjadi Perang Jenderal?
Sementara itu, perseteruan, katakanlah begitu antara Wiranto dengan Prabowo tampaknya sirna manakala keduanya ikut dalam konvensi Golkar tahun 2003.
prabowo wiranto
Prabowo (kiri) dan Wiranto (kanan) bersa;aman.
Waktu itu Wiranto mengungguli empat saingannya antara lain Prabowo. Masih mengenakan jaket kuning Wiranto mendatangi dan menyalami Prabowo yang duduk di ujung, keduanya bersalaman dan tertawa lepas.
Ini membuktikan bahwa apa yang sebenarnya terjadi dari polemik peralihan kekuasaan pada 1998 masih menjadi awan gelap dalam sejarah republik kita ini. Semuanya hanyalah strategi politik dan perebutan kekuasaan semata, yang tak akan pernah abadi.
Manusia kadang tak pernah belajar, walau mengaku telah belajar. Semua hanyalah nafsu duniawi semata, mirip Fir’aun yang menginginkan kaya raya, memproklamirkan dirinya menjadi tuhan, merasa hebat, namun akhirnya mati jua hanya oleh nyamuk kecil yang masuk ke telinganya?
Kerusuhan Mei 1998 Murni Operasi Militer!
Pemerintah tidak penah menindaklanjuti dengan proses hukum soal laporan investigasi disusun oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998.
Namu.n anggota TGPF Sandyawan Sumardi mengatakan kasus Mei 1998 adalah tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Dia memperkirakan kekacauan pada tanggal 13, 14, dan 15 itu menewaskan 1.880 orang!
tragedi 14-Mei-1998-01
Tragedi 14 Mei 1998, Ratusan Penjarah Tewas Terpanggang
“Jumlah korban jiwa itu sangat besar dibandingkan Perang Diponegoro,” kata Sandyawan di kantornya di bilangan Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Pemerintah telah menyerahkan hasil penyelidikan TGPF Mei 1998 itu ke Kejaksaan Agung, namun sampai saat ini belum ditindaklanjuti hingga penyidikan.
Dia menuding Kejaksaan Agung tidak berniat menyelesaikan kasus kejahatan kemanusiaan itu dengan alasan menunggu terbentuknya Pengadilan Hak Asasi Ad Hoc.
Sandyawan menilai pemerintah sejatinya sejak awal tidak pernah menginginkan pembentukan TGPF. Tim ini terbentuk atas desakan negara-negara sahabat untuk mencari tahu penyebab kerusuhan dan penuntasannya. Komisi itu melibatkan semua departemen.
Lagi pula hasil dari temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan Presiden Habibie untuk mencari keterlibatan Prabowo dalam kerusuhan 1998, juga tidak pernah disampaikan ke masyarakat luas secara jelas.
Apa dan mengapa serta seberapa besar keterlibatan tokoh tentara seperti Prabowo, Wiranto dan juga tokoh-tokoh sipil lainnya seperti Amin Rais, Sri Bintang Pamungkas dan juga orang-orang yang mengadakan pertemuan dengan Prabowo di Markas Kostrad pada malam harinya. pada kerusuhan yang terjadi di tahun 1998 itu, semua tak jelas dan tak ada laporan resmi yang pasti.
Sampai sekarang misalnya, kasus pembunuhan dan pemerkosaan massal itu sungguh sulit diungkap. “Kerusuhan Mei adalah operasi militer murni,” Sandyawan menegaskan.
pahlawan-12-mei-98
Mahasiswa korban Tragedi Trisakti 1998
Temuan tim pencari fakta di beberapa kota, seperti Medan, Jakarta, Solo, Lampung, Palembang, dan Surabaya kian membuktikan keterlibatan militer. Dia menyebutkan kerusuhan di kota-kota itu selalu terjadi dengan sistematis, jumlah korban banyak, dan luas.
Meski begitu mantan Panglima ABRI Jenderal Wiranto dan bekas Komandan Jenderal Kopassus Letnan Jenderal Prabowo Subianto disebut-sebut bertanggung jawab dalam kerusuhan Mei telah membantah.
Pernyataan Prabowo tentang Kudeta diatas, harusnya juga menjadi momen penting kita sebagai warga negara yang menuntut kejelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada era itu.
Apalagi saat ini Prabowo maju menjadi capres pada pemilu 2014. Bisa jadi pun Wiranto ikut kembali. Bijakkah calon pemimpin yang masih terbelenggu masalah sejarah kelam bangsa ini mengajukan diri untuk menjadi pemimpin bangsa???
Berapa banyak anak bangsa yang telah meregang nyawa pada tahun 1998 dari Sabang hingga Merauke untuk melepas rantai dari belenggu New Order atau Orde Baru agar jauh-jauh lebih bebas menerima dan mendapat segala informasi seperti sekarang?
doa di kuburan tragedi 1998
Ibu Sanu (sekitar 60 tahun), ibu dari seorang anak yang hilang dalam kerusuhan 13-15 Mei 1998, berdoa di depan sebuah makam pekuburan massal korban kerusuhan Mei 1998 di Pondok Rangon, Jakarta
Alangkah lebih Bijak jika calon pemimpin itu membersihkan namanya dari luka sejarah yang terjadi dalam proses kelam bangsa ini.
Berilah pendidikan positif bagi rakyat dan generasi muda bangsa ini tentang bagaimana melihat seorang pemimpin. Jangan biarkan sifat mudah melupakan sejarah yang dimiliki sebagian besar masyarakat menjadi kebiasaan dalam proses bernegara bangsa ini.
Banyak kalangan berpendapat, sebaiknya tokoh-tokoh yang terlibat langsung dengan peristiwa seputar 21 Mei 1998, mengungkapkan apa yang mereka tahu dan rasakan. Dengan demikian masyarakat sendiri yang akan menilai siapa yang benar siapa yang tidak benar. Atau biarkanlah sejarah mengalir seperti apa adanya?
Jika memang ingin menjadi Pemimpin Bangsa dengan niat yang baik, maka awalilah dengan niat yang baik pula. Bersihkanlah nama dari noda sejarah. Karena rekam jejak atau track record, sejatinya tak akan pernah bisa dihapus. Karena Sejarah adalah Fakta, dan Fakta adalah Sejarah. Semoga bermanfaat. Wassalam. (admin)
prabowo dan sby
(sumber: merdeka / kompasiana / uniqpost.com / alloutabout.wordpress.com / ifeschool.wordpress.com / Tragedi Trisakti / Kerusuhan Mei 1998 /
majalahkonstan / edited, added, grammar: IndoCropCircles)

Daftar Pustaka:

http://indocropcircles.files.wordpress.com/2013/10/a4ddc-detik-detikyangmenentukan.jpg?w=270&h=374 ‘Detik-detik Yang Menentukan’ oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, (lihat buku online atau download versi PDF via ZIP atau download PDF)
*
http://readingwalk.com/sites/readingwalk.com/files/styles/book_medium/public/img/book/habibie_0.jpgHabibie, Prabowo dan Wiranto Bersaksi’ , oleh Asvi Warman Adam (download versi DOC atau PDF)
*
http://rakbukuonline.files.wordpress.com/2011/01/sintong.jpg?w=277&h=407‘Perjalanan Seorang Prajurit PARA KOMANDO’ , oleh Letjen Sintong Panjaitan (lihat buku online atau download PDF)
*
http://www.amartapura.com/uploadimg/f_k/konflikdanintegrasitni-ad_28795.jpg‘Konflik dan Integrasi TNI-AD’ , oleh Mayor Jenderal (Mayjen) Kivlan Zen (download versi PDF)
***

PHOTO GALLERIES KERUSUHAN 1998:

kerusuhan mei 1998 01
Kerusuhan Mei 1998 di daerah Glodok, Jakarta. TEMPO/Rully Kesuma
TEMPO/ Rully Kesuma
TEMPO/ Rully Kesuma

Korban Tragedi 1998 terkapar di jalan.
Kerusuhan 13-14 Mei 1998 di daerah Glodok, Jakarta. (TEMPO/ Rully Kesuma)
Kerusuhan 13-14 Mei 1998 di daerah Glodok, Jakarta. (TEMPO/ Rully Kesuma)
Kerusuhan 13-14 Mei 1998 di daerah Manggarai, Jakarta. (TEMPO/ Rully Kesuma)
Kerusuhan 13-14 Mei 1998 di daerah Manggarai, Jakarta. (TEMPO/ Rully Kesuma)
kerusuhan mei 1998 03
Mobil yang dibakar pada kerusuhan Mei 1998 dengan latar belakang Citraland Mall, Grogol, Jakarta. (TEMPO/Rully Kesuma)
Protes mahasiswa menolak Sidang Istimewa MPR dengan tentara pasukan marinir mengamankan kerusuhan yang terjadi di sekitar Jembatan Semanggi, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Robin Ong)
Protes mahasiswa menolak Sidang Istimewa MPR dengan tentara pasukan marinir mengamankan kerusuhan yang terjadi di sekitar Jembatan Semanggi, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Robin Ong)
kerusuhan 1998 gedung MPR 001
Tentara dari pasukan anti huru hara (PHH) menembaki mahasiswa/ warga saat terjadi kerusuhan di sekitar Jembatan Semanggi, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Rully Kesuma)
Tentara dari pasukan anti huru hara (PHH) menembaki mahasiswa/ warga saat terjadi kerusuhan di sekitar Jembatan Semanggi, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Rully Kesuma)
Polisi berkuda menghalau mahasiswa saat terjadi kerusuhan di Semanggi, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Robin Ong)
Polisi berkuda menghalau mahasiswa saat terjadi kerusuhan di Semanggi, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Robin Ong)
Tentara dan polisi membopong mahasiswa yang menjadi korban saat terjadi kerusuhan di Semanggi, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Robin Ong)
Tentara dan polisi membopong mahasiswa yang menjadi korban saat terjadi kerusuhan di Semanggi, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Robin Ong)
Truk dan mobil terbakar pada kerusuhan Mei, Jakarta, Selasa 14 Mei 1998. (TEMPO/ Rully Kesuma)
Truk dan mobil terbakar pada kerusuhan Mei, Jakarta, Selasa 14 Mei 1998. (TEMPO/ Rully Kesuma)
Polisi pada kerusuhan Jakarta, 14 Mei 1998 dekat kampus Trisakti (DR/Rully Kesuma)
Polisi pada kerusuhan Jakarta, 14 Mei 1998 dekat kampus Trisakti (DR/Rully Kesuma)
Mobil yang terbakar pada kerusuhan, Jakarta, 14 Mei 1998 di Matraman, Jakarta (TEMPO/Rully Kesuma)
Mobil yang terbakar pada kerusuhan, Jakarta, 14 Mei 1998 di Matraman, Jakarta (TEMPO/Rully Kesuma)
Toserba Yogya Klender setelah terbakar pada kerusuhan Mei, Jakarta, 14 Mei 1998. (DR/ Rully Kesuma)
Toserba Yogya Klender setelah terbakar pada kerusuhan Mei, Jakarta, 14 Mei 1998. (DR/ Rully Kesuma)
Polisi dengan senapan mengintai setelah penembakan mahasiswa Trisakti / kerusuhan Mei 1998 (TEMPO/Rully Kesuma)
Polisi dengan senapan mengintai setelah penembakan mahasiswa Trisakti / kerusuhan Mei 1998 (TEMPO/Rully Kesuma)
Kerusuhan dengan para penjarah mengambil komputer di Jakarta, 13-14 Mei 1998. (TEMPO/ Rully Kesuma)
Kerusuhan dengan para penjarah mengambil komputer di Jakarta, 13-14 Mei 1998. (TEMPO/ Rully Kesuma)
Pedagang asongan yang menjual teh botol berlari saat kerusuhan Mei, Jakarta, 13 Mei 1998. (TEMPO/ Yunizar Karim)
Pedagang asongan yang menjual teh botol berlari saat kerusuhan Mei, Jakarta, 13 Mei 1998. (TEMPO/ Yunizar Karim)
Kerusuhan Mei akibat tragedi Semanggi di sekitar Atrium Plasa, Senen, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Gatot Sriwidodo)
Kerusuhan Mei akibat tragedi Semanggi di sekitar Atrium Plasa, Senen, Jakarta, 1998. (TEMPO/ Gatot Sriwidodo)
Anak sekolah melempari pertokoan di Jalan Hasyim Ashari pada kerusuhan tanggal 13 Mei 1998, Jakarta. (Bodhi Chandra)
Anak sekolah melempari pertokoan di Jalan Hasyim Ashari pada kerusuhan tanggal 13 Mei 1998, Jakarta. (Bodhi Chandra)
Tembok sebuah pertokoan yang ditulisi milik pribumi asli di Pondok Gede saat terjadi kerusuhan tanggal 14 Mei 1998, Jakarta. (Bodhi Chandra)
Tembok sebuah pertokoan yang ditulisi milik pribumi asli di Pondok Gede saat terjadi kerusuhan tanggal 14 Mei 1998, Jakarta. (Bodhi Chandra)
Seorang penjarah dengan kursi jarahan melewati mobil-mobil yang terbakar pada kerusuhan tanggal 14 Mei 1998 di Jalan Hasyim Ashari, Jakarta. (Bodhi Chandra)
Seorang penjarah dengan kursi jarahan melewati mobil-mobil yang terbakar pada kerusuhan tanggal 14 Mei 1998 di Jalan Hasyim Ashari, Jakarta. (Bodhi Chandra)
Massa membalik dan membakar mobil pada kerusuhan tanggal 14 Mei 1998 di jalan Hasyim Ashari, Jakarta. (DR/Bodhi Chandra)
Massa membalik dan membakar mobil pada kerusuhan tanggal 14 Mei 1998 di jalan Hasyim Ashari, Jakarta. (DR/Bodhi Chandra)
Massa penjarah dengan barang jarahan di golden trully harmoni pada kerusuhan tanggal 14 Mei 1998 di Jakarta. (Bodhi Chandra)
Massa penjarah dengan barang jarahan di golden trully harmoni pada kerusuhan tanggal 14 Mei 1998 di Jakarta. (Bodhi Chandra)
Massa yang akan menjarah di Pondok Gede dijaga oleh tentara anggota Paskhas Angkatan Udara pada kerusuhan tanggal 13 Mei 1998. (Yunizarr Karim)
Massa yang akan menjarah di Pondok Gede dijaga oleh tentara anggota Paskhas Angkatan Udara pada kerusuhan tanggal 13 Mei 1998. (Yunizarr Karim)
Polisi mengangkat mayat yang menjadi korban pada kerusuhan tanggal 13 Mei 1998, Jakarta. (Yunizar Karim)
Polisi mengangkat mayat yang menjadi korban pada kerusuhan tanggal 13 Mei 1998, Jakarta. (Yunizar Karim)
Massa membakar banyak pertokoan pada kerusuhan tanggal 13 Mei 1998, Jakarta. (Bodhi Chandra)
Massa membakar banyak pertokoan pada kerusuhan tanggal 13 Mei 1998, Jakarta. (Bodhi Chandra)
Suharto resigns
Suharto resigns
kerusuhan 1998 Habibie dilantik di Istana negara 001kerusuhan 1998 Istana negara 001Habibie pasca kerusuhan 1998Habibie pidato sidang istimewa 13-11-98 001
kerusuhan 1998 Habibie melantik Kabinet Reformasi Pembangunan 23 Mei 1998 di Istana negara 001
kerusuhan 1998 Habibie berfoto dengan Kabinet Reformasi Pembangunan 23 Mei 1998 di Istana negara 001
Habibie menolak dicalonkan presiden 20-10-99 001Habibie menyerahkan bendera pusaka 17-8-1999 001
Habibie hormat bendera pusaka 17-8-1999 001
kerusuhan 1998 Habibie periksa barisan kehormatan 001
Habibie sampaikan selamat gus dur sbg presiden RI ke-4 20-10-99 001wiranto prabowo akbar tanjung ical bakrie surya paloh
Pertemuan Prabowo dan Wiranto
 
Trisakti and Semanggi tragedy part 1 of 5 | PART-2 | PART-3 | PART-4 | PART-5 |


http://indocropcircles.wordpress.com/2013/10/24/prabowo-dan-pergerakan-pasukan-liar-tragedi-1998/

Kronologi Tragedi Berdarah Simpang KKA Aceh

Tragedi Simpang KKA

Tanggal 3 Mei punya banyak makna bagi warga Aceh Utara, dan juga bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Tanggal tersebut selain bermakna resistensi atau perlawanan rakyat melawan negara, juga sebuah kenangan buruk, betapa negara begitu semena-mena terhadap rakyatnya. Karenanya, saban tahun—meski tak rutin karena kondisi Aceh tak selalu kondusif untuk mengenang tragedi—warga Aceh Utara khususnya para korban tragedi Simpang KKAmemperingatinya.

Sekedar merawat ingatan, Senin, 3 Mei 1999 atau tigabelas tahun silam, banyak darah berceceran di sekitar simpang PT KKA. Jeritan dan tangisan para korban memecah telinga siapa saja yang pernah mendengar. Saat itu, harga peluru tentara begitu murahnya, karena bisa dihambur-hamburkan dengan sangat mudah. Setelah itu, puluhan mayat dan ratusan korban tergelatak, ada yang sudah kaku, banyak juga yang masih bernyawa sambil merintih, yang lainnya berlarian seperti dikejar air tsunami, mencari tempat yang bisa dijadikan tempat berlindung.

Saat tragedi itu, korban luka-luka tak terhitung. Hanya data yang dikumpulkan oleh Tim Pencari Fakta (TPF) Aceh Utara menyebutkan 115 orang mengalami luka parah, sementara 40 orang lainnya meninggal dunia. Dari jumlah itu, ada 6 orang masih sangat kanak-kanak, termasuk Saddam Husein (7 tahun) menjadi korban kebuasan aparat negara. 

Sementara data yang dikeluarkan Koalisi NGO HAM Aceh, menyebutkan sekitar 46 orangmeninggal (dua orang meninggal ketika menjalani perawatan di RSUZA Banda Aceh), sebanyak 156 mengalami luka tembak, dan 10 orang hilang dalam insiden tersebut.

Meskipun banyak pihak melupakan peristiwa itu, tidak bagi para korban. Jamaluddin, misalnya, sampai sekarang masih terkenang dengan tragedi paling kejam dalam hidupnya. Jamal, kelahiran Sawang, Aceh Utara mengisahkan, bahwa saat peristiwa itu terjadi, dirinya melihat banyak sekali korban tembakan yang rubuh. Jamal juga mendengar jeritan tangis dari para ibu dan bapak yang melihat warga tertembak.

Jamal sendiri mengaku, saat tragedi itu, tubuh-tubuh warga yang kena tembakan jatuh menindihnya. Dengan sisa tenaga yang ada, mayat-mayat diambil dan diletakkan di tempat yang layak. Jamal mengaku, tak tahu harus berkata apa saat itu. Jamal, sendiri luput dari maut.Jamal berharap Pemerintah Aceh tidak melupakan peristiwa itu. Kalau memang ini pelanggaran HAM, pelakunya harus diadili. Karena itulah keadilan bagi korban.

Kronologi Peristiwa


(Dihimpun dari koalisi NGO HAM Aceh)


Jumat malam, 30 April 1999.

Sekitar jam 20.30 WIB masyarakat Desa Cot Murong, Kecamatan Dewantara, mengadakan rapat akbar untuk memperingati 1 Muharram yang bertepatan dengan 30 April 1999. Oleh pihak keamanan, peringatan 1 Muharram yang biasa diselenggarakan oleh masyarakat Islam di manapun di seluruh Propinsi Aceh, disebut sebagai ceramah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Lalu muncul kabar bahwa seorang anggota TNI dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berpangkat Sersan, bernama Adityawarman, hilang saat melakukan penyusupan di tengah kegiatan ceramah (Keterangan Kapuspen TNI, nama anggotanya yang hilang itu adalah Sersan Kepala Edi, dari Den Rudal 001/Pulo Rungkom, Aceh Utara).

Tidak jelas apakah anggota TNI itu benar hilang atau terjadi berbagai kemungkinan lainnya, tetapi yang pasti tidak satupun dari penduduk yang mengetahui keberadaannya. Dan yang pasti lagi, malam itu tidak terjadi apa-apa yang berarti di Desa Cot Murong.

Sabtu malam, 1 Mei 1999

Sebuah truk militer dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berputar-putar dikawasan Desa Cot Murong dengan aktivitas yang tidak jelas, tetapi hari itu tidak terjadi apa-apa.

Minggu pagi, 2 Mei 1999

Mulai pukul 05.00 WIB pasukan Den Rudal 001/Pulo Rungkom mulai melakukan operasi di kawasan Desa Cot Murong. Pada minggu pagi itu masyarakat sedang melakukan persiapan pelaksanaan kenduri memberi makan untuk anak-anak yatim sehubungan dengan pringatan 1 Muharram yang dilaksanakan sejak Jumat malam sebelumnya. Masyarakat memotong 4 ekor lembu di halaman Masjid Al-Abror, Cot Murong.

Pada saaat itulah, sekitar jam 11.00 WIB datang pasukan Den Rudal ke tempat kenduri dan dengan dalih menanyakan anggotanya yang hilang sehari sebelumnya mulai memuli warga setempat. Dilaporkan, waktu itu ada tidak kurang 20 orang yang dianiaya oleh anggota TNI tersebut. Praktek kekerasan dan penganiayaan dengan bertindak kasar, menampar dan memukuli hingga cedera, telah terjadi.

Ketika sedang melancarkan aksinya, penduduk sempat mencatat kata-kata yang dikeluarkan para anggota TNI yaitu "Akan kami tembak semua orang Aceh apabila seorang anggota kami tidak ditemukan...".

Menyadari kondisi yang mulai mencemaskan tersebut kemudian para warga dari Desa Murong dan desa-desa tentangga seperti Desa Lancang Barat, Kecamatan Nisam dan Paloh Lada, yang terdiri dari pemuda, wanita, orang tua serta anak-anak berkumpul untuk mencegah kemungkinan penganiayaan lebih lanjut, apalagi aparat militer telah mengeluarkan ancaman yang cukup menakutkan.

Tiba-tiba, pada pukul 13.00 WIB datang lagi pasukan tambahan yang terdiri dari 7 truk anggota TNI ke lokasi kenduri. Melihat itu, masyarakat yang telah berkumpul dari berbagai penjuru Kecamatan mencoba menghadang.

Tepat pukul 14.00 WIB terjadi negosiasi (membuat perjanjian) antara masyarakat Kecamatan Dewantara dengan Danramil Kecamatan Dewantara yang diketahui pihak MUI Kecamatan, yang isinya: "TNI tidak akan datang lagi ke Desa Cot Murong dengan alasan apapun".

Minggu malam, 2 Mei 1999.

Masyarakat desa mengetahui adanya penyusupan anggota TNI antara jam 20.00 WIB sampai dinihari ke Desa Cot Murong dan Desa Lancang Barat. Bahkan penduduk pun mengetahui adanya sebuah boat yang diperkirakan milik militer berupaya untuk melakukan pendaratan di pantai Desa Cot Murong, namun batal karena terlanjur diketahui oleh warga setempat. Sampai waktu itu tidak terjadi apa-apa, namun kecemasan penduduk semakin memuncak, dan sejak saat itu mereka semua mulai berkumpul sampai Senin pagi.

Senin pagi, 3 mei 1999.

Tepat pada pukul 09.00 WIB, 4 truk pasukan TNI datang lagi memasuki Desa Lancang Barat, desa tentangga Cot Murong. Massa rakyat yang berkumpul merasa cemas dan mulai mempersenjatai diri dengan kayu dan parang (tanpa senjata api).

Lalu datang Camat Dewantara, Drs. Marzuki Amin ke Simpang KKA dan mulai melakukan negosiasi dengan aparat TNI. Aparat berkeras dan negosiasi mentok. Camat tetap berpegang kepada perjanjian terdahulu yang telah disepakati oleh masyarakat dengan Koramil Dewantara yang intinya pihak TNI tidak lagi melakukan kegiatan operasi di daerah mereka. Negosiasi itu beralangsung cukup lama. Waktu sudaah menunjukkan hampir jam 12.00 WIB.

Untuk menunjukkan kesungguhan hati dan permohonan yang sangat besar agar pasukan segera ditarik dan pihak TNI menghormati perjanjian yang telah dibuat, Camat Marzuki Amin sempat mencopot tanda jabatan dari dadanya. Tetapi malah sang Camat kemudian dipukuli oleh tentara.

Pada saat itu tiba-tiba satu truk milik TNI bergerak dan sambil berlalu, dari atas truk para tentara melempari batu ke arah masyarakat, dan masyarakat yang terpancing balas melempari batu ke atas truk. Pada saat yang hampir bersamaan juga seorang anggota tentara berlari kearah semak-semak dan masyarakat yang terpancing mengejarnya. Tiba-tiba dari arah semak itu terdengar satu letusan senjata. Letusan senjata itulah yang seperti sebuah "komando" disusul oleh rentetan serangan. Pembantaian segera dimulai. Tepat jam 12.30 WIB.

Saat Kejadian.

Pukul 12.30 WIB, Suara gemuruh dan teriakan manusia memenuhi Simpang KKA. Ribuan orang berlarian menghindari serangan dari TNI. Dua wartawan RCTI (Umar HN dan Said Kaban) yang kebetulan sudah berada di tempat itu sempat merekam moment-moment penting yang terjadi baik dengan foto atau video. Dapat dikatakan, hasil rekamannya itu menjadi salah-satu bukti yang paling akurat dan tidak mungkin dapat dipungkiri tentang bagaimana peristiwa yang sebenarnya.

Tembakan yang dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu dan dengan posisi siap tempur. Tentara yang dibagian depan jongkok dan yang berada pada barisan belakang berdiri. Selain itu, tentara yang berada di atas truk juga terus melakukan tembakan sambil melakukan gerakan-gerakan tempur. Saat itu penduduk yang tidak lagi sempat lari melakukan tiarap tapi terus diberondong.

Selain melakukan tembakan kearah masa, TNI juga mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, sehingga banyak warga yang sedang di dalam rumah juga menjadi korban. Bahkan mereka mengejar dan memasuki rumah-rumah penduduk dan melakukan pembantaian di sana.

Ketika melakukan tembakan para anggota tentara itu juga berteriak-teriak. Kalimat yang paling sering diucapkan adalah "Akan kubunuh semua orang Aceh". Dalam aksi pembantaian tersebut, 45 jiwa Tewas di tempat, 156 lainnya Luka-luka kebanyakan karena luka tembak, dan 10 diantaranya Hilang sampai saat ini tidak tahu keberadaannya. Banyak penduduk yang sudah tertembak dan tidak bisa lari lagi masih terus diberondong oleh tentara dari belakang. Mereka benar-benar melakukan pembantaian seperti sebuah pesta.

Sumber: Koalisi NGO HAM Aceh

Intelijen Inggris Buka Dokumen Soal Mata-mata Legendaris, Mata Hari

Pernah dengar kisah soal mata-mata perempuan legendaris era Perang Dunia Pertama bernama Mata Hari? Pernah bekerja untuk intelijen Prancis tapi akhirnya tewas di depan regu tembak dari negara yang sama tahun 1917 karena dianggap menjadi mata-mata untuk Jerman. Meski sudah tewas hampir satu abad lalu, namun kisah tentangnya masih mengundang rasa ingin tahu banyak orang.
Badan intelijen dalam negeri Inggris, Security Service, atau yang lebih terkenal dengan sebutan MI5, membuka dokumen soal dia pada 10 April lalu dan dimuat sejumlah media setelahnya. The Star menulis cerita dari dokumen Arsip Nasional Inggris itu pada 24 April 2014 dalam artikel berjudul Condemned spy Mata Hari glib during final interrogation: MI5 files, dan Joseph Fitsanakisi menulis cerita itu di Intelnews dengan judul MI5 releases documents on Dutch double spy Mata Hari.
Mata Hari adalah nama panggung Margaretha Geertruida Zelle, yang lahir 8 Juli 1876, di Hindia Belanda. Ayahnya Belanda, ibunya Jawa. Pada tahun 1895 ia menikah dengan Rudolf MacLeod, tentara Belanda berpangkat kapten keturunan Skotlandia yang bertugas di daerah kolonial Belanda yang sekarang menjadi Indonesia. Karena gemar mabuk dan bersikap kasar, Zelle menceraikannya. Usai perceraian itu, ia bergabung dengan grup sirkus di Paris.
Ia akhirnya menjadi sangat populer sebagai penari eksotis, posisi yang membuatnya bisa menjalin kontak dekat dengan banyak pria berpengaruh di Perancis, dan menjadi pacarnya. Salah satu pria itu adalah jutawan Émile Étienne Guimet, yang akhirnya menjadi kekasihnya hingga lama. Pada tahun 1916, Zelle diduga mulai bekerja untuk intelijen Prancis, dengan mengumpulkan informasi dari pacar-pacar Jermannya.
Namun, bulan Februari tahun berikutnya dia ditangkap oleh petugas kontra intelijen Perancis di Paris dan dituduh memata-matai atas nama Kekaisaran Jerman. Jaksa Perancis menuding Zelle menyediakan informasi intelijen taktis bagi Berlin yang itu dianggap membahayakan sekitar 50.000 tentara Prancis.
Dalam satu set dokumen yang dirilis MI5 terungkap bahwa intelijen sekutu membuntuti penari eksotis itu di beberapa negara Eropa sebelum dia ditangkap di Paris. Dokumen itu juga menyatakan bahwa saat di penjara de Saint-Lazare, di luar kota Paris, itulah Zelle mengaku telah melakukan spionase untuk dinas rahasia Jerman. Nama sandi untuk dia adalah H21. Dia juga mengaku menerima pembayaran sekitar 20.000 franc Perancis untuk jasanya. Koran-koran juga menunjukkan bahwa Zelle mengakui bahwa beberapa botol 'tinta tak terlihat' di temukan di hotelnya, yang diberikan oleh handler (atasan) Jerman-nya.
Dalam aporan terbaru yang dirlis MI5 dikatakan bahwa Mata Hari "tidak membuat pengakuan penuh" dan "tidak pernah menyerahkan nama orang" yang disebut sebagai kaki tangannya. Pengakuan ini yang membuat penulis laporan MI5 menyimpulkan bahwa ia bekerja seorang diri.
Zelle juga terlihat tidak terganggu oleh upaya interogator Perancis yang mengkonfrontir dia dengan sederet daftar nama kekasihnya, dari berbagai jengjang kepangkatan dan kebangsaan. Pacarnya beragam. Ada yang berkewarganegaraan Jerman, Prancis, Rusia, Swiss dan Spanyol. Kepada penyelidik, ia mengaku "mencintai semua perwira dan lebih suka memiliki kekasih perwira yang miskin daripada seorang bankir kaya."
Dia akhirnya dieksekusi oleh regu tembak pada 15 Oktober 1917 di sebuah lapangan di pinggiran Paris. Dokumen-dokumen disimpan dalam arsip pemerintah Prancis yang berkaitan dengan penangkapan Zelle, interogasi dan eksekusinya, masih tetap dirahasiakan.
Akademisi yang telah mempelajari sejarahnya tidak percaya Zelle memberikan informasi yang berguna bagi Jerman untuk perangnya. "Dia benar-benar tidak menyerahkan apa pun yang Anda tidak bisa temukan di koran-koran lokal di Spanyol," kata Julie Wheelwright dari City University di London, penulis The Fatal Lover: Mata Hari and the Myth of Women in Espionage.
Wheelwright mengatakan ia menjadi seorang penari eksotis setelah melarikan diri dari pernikahan yang berantakan.
Wheelwright menggambarkan Zelle sebagai "seorang wanita mandiri, janda, warga negara biasa, pelacur dan penari, yang membuatnya menjadi 'kambing hitam' sempurna untuk Prancis, yang kemudian kalah perang."

Safari Politik Joko Widodo di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Jokowi bersama Gus Sholah 
MolokekNews - Bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Joko Widodo (Jokowi) diceramahi dan disuruh ngaji kitab kuning oleh Pemilik Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyi’in, desa Pacul Gowang, Jombang, Jawa Timur, KH Muhammad Abdul Azis Mansyur.
“Pertemuan silaturahmi berlangsung akrab, Kyai sempat memberikan wejangan jika kelak (Jokowi) terpilih mau menjalankan nilai-nilai yang diperjuangkan Nahdatul Ulama (NU). Lalu tadi Kyai sempat memberikan kultum, kuliah tujuh menit, dan Pak Jokowi tadi disuruh belajar kitab kuning,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah saat menemani Jokowi melakukan safari politik ke tempat ini, Sabtu (3/5/2014).
Jokowi dan Kyai Azis pun hanya tersenyum mendengarkan ucapan Basarah. Sementara itu, Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jakfar yang mewakili Kyai, mengatakan ada beberapa catatan penting. Yang pertama, menanamkan ajaran Islam ahlu sunnah waljamaah kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Karena ahlu sunnah waljamaah adalah pengawal bagi keberlangsungan negara kesatuan Republik Indonesia,” kata Marwan.
Yang kedua, sambungnya, ada nilai-nilai luhur pesantren, terutama pesantren-pesantren tradisional harus kita lestarikan semuanya. Pelestarian ini, kata Marwan, demi kejayaan negara kesatuan Republik Indonesia.
Yang ketiga, tambah dia, yang tidak kalah penting adalah bahwa memilih imam itu sendiri, sebagai pemimpin ahlu sunnah waljamaah, adalah kewajiban bagi kita semua, bagi rakyat Indonesia. Dan, NU tidak pernah memberontak kepada negara.
“Oleh karena itu, kepada Pak Jokowi Kyai Aziz memberikan nasihat bahwa kepemimpinan harus dijaga supaya negara kesatuan kita betul-betul tegak dan sampai seterusnya. Dan NU akan terus mengawal negara Indonesia ini, dan beliau memberikan restu kepada Pak Jokowi untuk berjuang memimpin negara ini,” papar Marwan.
Di kesempatan yang sama, Jokowi mengatakan telah diberikan wejangan kepadanya bila nanti Allah memberikan izin untuk menjadi pemimpin nasional. “Tadi sudah dijelaskan, dan saya memahami sekali apa yang beliau sampaikan,” tutur Jokowi.
Sementara itu, Kyai Azis sendiri merestui Jokowi menjadi capres. Sebab, menurutnya, sosok Gubernur DKI Jakarta ini adalah orang yang ramah, merakyat dan bisa menerima nasihat serta tidak membantahnya.
Smeentra itu, disinggung soal kitab yang dibaca Jokowi tadi, Kiyai Azis menerangkan, kitab tersebut merupakan kitab yang berisikan syariat Islam tentang dasar ilmu fiqih.
“Pak Jokowi membaca Jam ul jamawek usul fiqih, menjadi sumber pada fiqih syariat orang Islam yang dicantumkan dalam kitab yang saya sajikan kepada pak Jokowi tadi. Saya bacakan kitab ngaji pak Jokowi dengan saya? Oh iya iya katanya Pak Jokowi,” ujar Kiyai Azis.
“Saya merestui, memang beliau menyatakan bahwa akan mencalonkan diri sebagai presiden, saya merestui,” kata Kiyai Azis.
Namun, ungkapan ini terlepas dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Syuro PKB. Kiyai Azis menerangkan, tidak ada pembicaraan untuk hal itu dalam kesempatan kali ini. “Belum-belum ada pembicaraan itu,” tuturnya.

Jokowi kunjungi ponpes Tebu Ireng
Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, KH Solahuddin Wahid (Gus Solah) meminta bakal calon presiden (Capres) dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Joko Widodo (Jokowi) untuk membereskan masalah hukum yang ada di Indonesia.
“Masalah utama kita itu penegakan hukum, cuma itu saja,” kata Gus Solah usai dikunjungi Jokowi di pesantren Tebu Ireng, Sabtu (3/5/2014).
Dia menerangkan, masalah hukum yang dimaksud adalah penegakan hukum dan menjaga hak asasi manusia. Tugas selanjutnya, sambung Gus Solah, adalah menyelesaikan reformasi demokrasi dan reformasi agraria yang sampai hari ini belum terwujud.
Selain itu, adik dari mantan Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur ini meminta agar dibuat pemisahan untuk Direktorat Pajak menjadi badan khusus.
“Saya pikir saya setuju sekali karena memang harus dipisah antara yang mengumpulkan uang dan yang menggunakan uang,” tambahnya.
Secara pribadi, Gus Solah memberikan restu pencapresan Jokowi. Namun, dia menolak bila dukungan ini disebut dukungan penuh dari santri Nahdlatul Ulama (NU) yang ada di pondok pesantrennya.
“Insya Allah begitu (mendukung),” kata Gus Solah.
“Umat (NU) itu kan punya akal masing-masing ya. Ada kyai yang ke sana, ada yang ke sini. Banyak dinamika yang selalu terjadi di dalamnya. Biarkan masyarakat yang menilai,” tambahnya.
Dalam pertemuan ini, Gus Solah membantah jika pembicaraan dengan Jokowi ini menyinggung calon pendamping Jokowi. Namun, dia menyatakan calon pendamping yang cocok dengan Jokowi adalah yang menguasai dan memiliki prestasi di bidang hukum.
Salah satu kader NU yang berprestasi dibidang hukum adalah Mahfud MD. Sayangnya Gus Solah enggan mengomentari lebih jauh mengenai kans Mahfud menjadi pendamping Jokowi.
“Tergantung Pak Jokowi. Kan tidak hanya pak Jokowi sendiri, banyak pertimbangan juga,” katanya.
Jokowi yang dimintai komentar soal isyarat nama Mahfud MD ini mengatakan punya feeling yang sama dengan isyarat yang dimaksud Gus Solah.
“Kalau feeling saya melihat penegakan hukum, Gus Solah tidak menyampaikan secara eksplisit nama. Tetapi kalau masalah penegakan hukum, masalah reformasi kok feeling saya mengarah ke sana,” kata Jokowi yang disambut tawa peserta.
Dalam kunjungan ini, Jokowi juga berziarah ke beberapa makam yang ada di kompleks pesantren. Makam yang berada di tempat ini di antaranya makam KH. Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan Mantan Presiden Abdurahman Wahid.
Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah yang mendampingi Jokowi mengatakan, ini merupakan napak tilas dari kedua trah tersebut. Jokowi sebagai trah Sukarno dan Gus Solah sebagai trah Hasyim Ashari.
“Seperti kita ketahui Bung Karno bersama Kyai Hasyim Ashary di jaman kemerdekaan bergandengan tangan untuk merebut kemerdekaan dan ketika mendirikan untuk pertama kalinya negara RI ini. Malam ini pertemuan yang bersejarah, Pak Jokowi melakukan napak tilas dan beliau berdua (Gus Solah) sudah bertemu berbicara cukup panjang lebar membicarakan masalah keumatan, kebangsaan dan kenegaraan,” katanya.



Tentang MolokekNews

Logo MolokekNews

Molokek News merupakan blog media online yang memuat berita apa saja yang terjadi disekitar kita. Memberitakan berita dan juga merupakan media alternatif untuk menyajikan berita yang kadang tidak termuat di media mainstream.
Redaksi Molokek News menerima kiriman berita atau informasi hasil reportase atau opini, dapat dikirimkan melalui email: molokeknews@gmail.com

Salam,
Admin MolokekNews

Mengenal Silsilah Minahasa Prabowo Subianto



Ini Silsilah Minahasa Prabowo
FAM atau trah Sigar merupakan salah satu keluarga di permukiman Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara. Sebelum 1828, di wilayah itu sudah ada setidaknya lima permukiman, yaitu Mawale, Waleure, Walantakan, Palamba, dan Talawatu (kemudian menjadi Temboan).
Masing-masing permukiman memiliki seorang tonaas atau kepala kelompok keluarga. Kumpulan kepala-kepala atau tonaas itu dipimpin walak alias kepala suku. Para walak yang pernah memimpin Langowan adalah Rambijan, Robot, Tumbaijlan, dan Tawaijlan.
Nama terakhir, Tawaijln, tak lain Benyamin Thomas Sigar alias Tawaijln Sigar, salah seorang kapitein atau pemimpin pasukan Tulungan atau Hulptroepen (pasukan bantuan) yang dikontrak pemerintah Hindia Belanda guna membantu mengatasi Perang Jawa (1825-1830).
Benyamin Thomas Sigar inilah yang jadi pokok dari trah Sigar dari Langowan, yang bergenerasi hingga salah satunya mengalir di darah Prabowo Subianto, kakak serta adiknya dari garis ibu.
Tokoh utama pasukan Tulungan dari Minahasa adalah Majoor Bintang Tololiu Hermanus Wilhelm Dotulong, yang lahir di Kema 12 Januari 1795 dan meninggal di Sonder, 18 November 1888. Tawalijn Sigar lahir di Langowan pada 1790 dan meninggal pada 1879.
Tokoh ketiga pemimpin pasukan Tulungan yang bertempur di Kedu dan sekitarnya adalah Majoor Hendrik Werias Supit. Ia lahir di Tondano-Toulimambot pada 1802, dan meninggal pada 1865. Kuburnya ada di Tondano-Toulimambot.
Pada 1829, Residen Manado, Daniel Francois Willem Petermaat, mengangkat Fiskal Irot sebagai Major dalam jabatan Kepala Distrik Langowan. Ia memerintah sebagai Hukum Besar mulai 1829 hingga 1841.
Pada saat itu perkampungan baru terus bermunculan, yaitu Amongena, Wolaang, Koyawas, Tounelet dan Atep. Sehingga tercatat ada sembilan kampung. Setiap desa dipilih dan diangkat Hukum Tua. Tahun 1841-1847 A Tendap Saerang menjadi Hukum Besar.
Bastian Thomas Sigar yang merupakan keturunan langsung Banyamin Thomas Sigar atau Tawajln Sigar, diangkat menjadi Hukum Kedua oleh Residen Cambier dan Opzier Tondano Benseijder.
Pada Pebruari 1848 Bastian Thomas Sigar diangkat menjadi Major/Hukum Besar oleh Residen Van Nolpen, sedangkan P Kumolontang menjadi Hukum Kedua. Tahun 1852 N Pandeirot juru tulis Wolaang diangkat menjadi juru tulis Distrik oleh Resident Scherjas.
Tahun 1853 P Kumolontang meninggal, dan digantikan Laurenst A Sigar. Tahun 1854 bertambah satu kampung, yaitu Rumbia. Jadi sudah ada 10 kampung. Tahun 1861 Conteleur Riedel di Tondano mengangkat N Pandeirot menjadi Hukum Tua Walantakan, Paulus Saerang Hukum Tua Waleure dan Benyamin Sigar Hukum Tua Amongena.
Januari 1870 Laurents A Sigar diangkat menjadi Majoor/Hukum Besar oleh Resident Deance, dan Desember 1870 N Pendeirot diangkat menjadi Hukum Kedua. Bersamaan dengan itu pemukiman di Tumaratas menjadi kampung.
Sejak 1870-1884 ketika Laurents A Sigar sebagai Hukum Besar, rakyat diperintah menanam kopi. Laurents A Sigar meninggal 2 Mei 1910, dimakamkam di Tompaso. Ia memiliki putra bernama Philip Sigar.
Hasil pernikahannya dengan E Aling, lahirlah Philip FL Sigar. Philip FL Sigar ini merupakan pribadi cemerlang, dan pernah menduduki jabatan Sekretaris Residen Manado periode 1922- 1924.
Sebuah jabatan prestise yang pertama kali diduduki pribumi Minahasa pada masa Hindia Belanda, atau sebelum 1942. Sebelumnya, ia menjadi anggota Gementeraad Manado pada 1920-1922.
Philip FL Sigar mengantongi ijazah Klein Ambtenaars-Examen. Sebelumnya sedari 1921-1922 telah memangku jabatan sebagai pejabat Sekretaris Keresidenan (Gewestelijk Secretaris) Manado.
Terakhir menjadi referendaris di kantor Provinsi Jawa Barat yang dibentuk pada 1926, lalu ke Palembang, sebelum pergi ke Belanda. Ia menikahi N Maengkom, dan salah seorang putrinya, Dora Sigar, dinikahi Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo.
Dari pasangan ini lahirlah, Biantiningsih Miderawati, Marjani Ekowati, Prabowo Subianto, dan si bungsu Hashim Sujono Djojohadikusumo.